Sunday, March 24, 2013

Club Detective School (part5)


Setelah berbelok mereka melihat rey sedang kebingungan mengahadapi 2 orang pria di depannya. Petter melepas jaketnya karena susah untuk bergerak jika berkelahi, ia pun meletakkan sepedanya dan langsung mengahajar pria yang ada di dekat nya. Joe menghadapi pria yang lain. Penjahat itu menusukkan pisau ke arah perut petter, untung saja ia sempat menghindar, tetapi malah tangannya yang kena. Tangan petter yang lain menangkap tangan pria yang memegang pisau itu dan langsung memelintirnya hingga pisaunya terjatuh.
Pria itu pun tersungkur ke tanah dan langsung di manfaat kan oleh petter untuk memasang borgor di tangan dan kaki orang itu. Sedang kan joe berhasil mengalahkan pria yang satu nya dengan menyundul perutnya dengan kepala joe yang berhasil membuat pria itu tersungkur dan langsung di pasangkan borgol juga oleh petter.
“Joe, panggil polisi, di dekat sini ada pos polisi, aku sulit untuk bersepda cepat dengan satu tangan” teriak petter. Joe pun langsung bersepeda dengan kekuatan penuh untuk menghubungi polisi.
“ka...kamu tak apa ?” tanya rey gugup.
 “ya” jawab petter singkat.
 “maaf ya, gara-gara aku kamu jadi begini ?”
“sudahlah tak usah di fikirkan” petter menatap tajam ke dua penjahat itu.
“aku membuntuti kalian”
“aku tau” rey mendongak mendengar jawaban petter.
“bagai mana kau tau ?”
“bukan urusan mu kan ?” petter masih sinis, ia sama seperti joe, sangat tidak menyukai rey karena sifat nya yang sombong dan sok pintar. Rey diam mendengar jawaban dari petter. Ia tak berani untuk berbicara lagi.
Tak lama kemudian datanglah sebuah mobil polisi, dua orang polisi keluar dari mobil itu. “oh petter kah ? di mana penjahatnya ?” tanya salah satu polisi tersebut. Petter mengangguk dan menunjuk penjahat tersebut. “wah, mereka pasti korban aksi karate mu hahah” kata polisi yang satu nya sambil melepas borgol pada kaki penjambret tersebut agar penjembret tersebut bisa berjalan sendiri.
“ borgol nya di pinjam dulu ya,oh ya. Lama tak terlihat petter ? ” tanya polisi tersebut sambil mencoba membantu penjambret tersebut unuk berdiri.
“iya,” jawab nya.
“wah jadi murid westwood ya” kata salah satu polisi.
“wow, pasti masuk ke club detective ?”  petter hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, wajah nya memerah.
“oke, terimakasih petter karena sudah berhasil menangkap penjambret ini, penjambret ini cukup meresahkan orang-orang disini.” Kedua polisi tersebut meninggalkan mereka semua dengan senyum merekah.
“lho petter ? polisi-polisi tadi mengenalmu ?” tanya joe sedikit bingung karena sepertinya ke dua polisi tadi cukup akrab dengan petter.
“iya, mereka sekantor dengan ayah ku dulu ketika ayah ku belum menjadi kapolri, aku sering berjumpa dengan mereka ketika aku berkunjung ke kantor polisi” jawab petter.
“oh pantas saja. Wah keren ya bisa berteman dengan polisi – polisi seperti itu” kata joe dengan suara yang begitu memuji.
“ah pasti, tapi lebih keren lagi jika memiliki teman seperti mu ” petter tersenyum lebar, mereka mengabaikan rey yang sedang duduk di situ.
“tangan mu terluka parah, sebaiknya kita cepat ke klinik sekolah” kata joe.
“kalian, terimakasih banyak ya” kata rey yang mulai berani berbicara.
“oh ya, kok kamu tahu dia sedang terkena masalah ?” tanya joe mulai ingat dengan pertanyaannya
“dia membuntuti kita, maka dari itu aku membeli spion” jawab petter sambil menaiki sepedanya.
“apa sih mau kamu ? anak sok pinter !!” tanya joe kasar.
“aku cuman mau berteman dengan kalian” katanya nyaris menangis.
“aku tak sudi berteman dengan gadis sombong seperti mu” bentak joe.
“dan gara-gara kamu petter terluka seperti ini” kalimat nya kali ini berhasil membuat rey menangis. “aku kan sudah minta maaf, kalian jahat sekali” katanya bersepeda cepat meninggal kan joe dan petter. “dasar tak tahu terimakasih” umpat joe.
“sudah lah joe, biarkan saja dia” petter bersepeda dengan satu tangan, ia tak kuat memegang stir sepedanya.
Mereka pun sampai ke sekolah, wajah petter sudah pucat pasi. Ia meletakkan sepeda mereka di halaman sekolah, “hey lettakkan kembali sepeda kalian ke gudang jika sudah tak di gunakan lagi” terdengar teriakan seseorang dari belakang mereka yang ternyata adalah suara oddie.
“titip dulu, petter terluka parah” teriak joe. Oddie yang melihat tangan petter mengeluarkan banyak darah mengerti. Ia pun membawa sepeda itu ke gudang sepeda.
Selama perjalanan ke klinik, mereka berpapasan dengan beberapa orang yang langsung histeris, “ada apa dengan petter ?” tanya sebuah suara yang ternyata adalah si kembar. “ceritanya nanti, bantu aku membawanya ke kllinik, aku tak tahu jalan ke klinik” si jordan langsung membantu memapah petter, sedangkan yang satu nya si jerry berlari ke arah klinik untuk mengecek ada bu laura atau tidak, kalau tidak ada dia kan bisa mencarinya sebelum petter tiba.
Bu laura adalah dokter sekolah, ia tinggal di klinik sekolah yang ada di lantai dua bagian kanan. Sesampanya di sana bersyukur ternyata bu laura ada, “ada apa jerry ? apa kau melakukan percobaan yang berbahaya lagi ?” tanya bu laura tenang.
“tidak, petter.. petter smith, terluka parah, aku ke sini duluan takut kau tak ada” jerry ter engah-engah.
“astaga, baik akan ku siapkan semua peralatan obatnya, luka apa ?”
“luka benda tajam, pisau kemungkinan”
“astaga...” bu laura berjalan ke sebuah lemari dan mengambil peralatan-peralatannya.
“itu dia, itu...” teriak jerry. Bu laura langsung menengok. “astaga petter ada apa dengan mu ? ayo bawa ke sini,baringkan dia di tempat tidur ini” petter sudah pingsan ketika sampai di klinik.
“apa yang terjadi ?” tanya nya sambil mengobati petter.
“ini semua salah ku, dia menyelamatkan ku dari penjahat itu” terdengar sebuah suara dari pintu klinik. Ternyata adalah rey, petter yang setengah sadar mendengar suara itu.
“tadi di sebrang danau aku hampir di jambret, tetapi aku berusaha menyelamatkan diri, dan di saat yang tepat petter dan joe datang.” Rey menangis. “baiklah-baiklah. Petter akan bermalam di klinik hari ini” kata bu laura,
“tapi besok hari pertama ku masuk kelas” jawab petter lemah yang nyaris menjadi sebuah bisikan.
“tapi kesehatan mu mengkhawatirkan, lagi pula minggu pertama belum belajar, baru perkenalan saja” bu laura membesarkan hatinya.

TO BE CONTINUED
(review please)

0 komentar

Post a Comment