Setelah
berbelok mereka melihat rey sedang kebingungan mengahadapi 2 orang pria di
depannya. Petter melepas jaketnya karena susah untuk bergerak jika berkelahi,
ia pun meletakkan sepedanya dan langsung mengahajar pria yang ada di dekat nya.
Joe menghadapi pria yang lain. Penjahat itu menusukkan pisau ke arah perut
petter, untung saja ia sempat menghindar, tetapi malah tangannya yang kena.
Tangan petter yang lain menangkap tangan pria yang memegang pisau itu dan langsung
memelintirnya hingga pisaunya terjatuh.
Pria
itu pun tersungkur ke tanah dan langsung di manfaat kan oleh petter untuk
memasang borgor di tangan dan kaki orang itu. Sedang kan joe berhasil
mengalahkan pria yang satu nya dengan menyundul perutnya dengan kepala joe yang
berhasil membuat pria itu tersungkur dan langsung di pasangkan borgol juga oleh
petter.
“Joe,
panggil polisi, di dekat sini ada pos polisi, aku sulit untuk bersepda cepat
dengan satu tangan” teriak petter. Joe pun langsung bersepeda dengan kekuatan
penuh untuk menghubungi polisi.
“ka...kamu
tak apa ?” tanya rey gugup.
“ya” jawab petter singkat.
“maaf ya, gara-gara aku kamu jadi begini ?”
“sudahlah
tak usah di fikirkan” petter menatap tajam ke dua penjahat itu.
“aku
membuntuti kalian”
“aku
tau” rey mendongak mendengar jawaban petter.
“bagai
mana kau tau ?”
“bukan
urusan mu kan ?” petter masih sinis, ia sama seperti joe, sangat tidak menyukai
rey karena sifat nya yang sombong dan sok pintar. Rey diam mendengar jawaban
dari petter. Ia tak berani untuk berbicara lagi.
Tak
lama kemudian datanglah sebuah mobil polisi, dua orang polisi keluar dari mobil
itu. “oh petter kah ? di mana penjahatnya ?” tanya salah satu polisi tersebut.
Petter mengangguk dan menunjuk penjahat tersebut. “wah, mereka pasti korban
aksi karate mu hahah” kata polisi yang satu nya sambil melepas borgol pada kaki
penjambret tersebut agar penjembret tersebut bisa berjalan sendiri.
“
borgol nya di pinjam dulu ya,oh ya. Lama tak terlihat petter ? ” tanya polisi
tersebut sambil mencoba membantu penjambret tersebut unuk berdiri.
“iya,”
jawab nya.
“wah
jadi murid westwood ya” kata salah satu polisi.
“wow,
pasti masuk ke club detective ?” petter
hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, wajah nya memerah.
“oke,
terimakasih petter karena sudah berhasil menangkap penjambret ini, penjambret
ini cukup meresahkan orang-orang disini.” Kedua polisi tersebut meninggalkan
mereka semua dengan senyum merekah.
“lho
petter ? polisi-polisi tadi mengenalmu ?” tanya joe sedikit bingung karena
sepertinya ke dua polisi tadi cukup akrab dengan petter.
“iya,
mereka sekantor dengan ayah ku dulu ketika ayah ku belum menjadi kapolri, aku
sering berjumpa dengan mereka ketika aku berkunjung ke kantor polisi” jawab
petter.
“oh
pantas saja. Wah keren ya bisa berteman dengan polisi – polisi seperti itu”
kata joe dengan suara yang begitu memuji.
“ah
pasti, tapi lebih keren lagi jika memiliki teman seperti mu ” petter tersenyum
lebar, mereka mengabaikan rey yang sedang duduk di situ.
“tangan
mu terluka parah, sebaiknya kita cepat ke klinik sekolah” kata joe.
“kalian,
terimakasih banyak ya” kata rey yang mulai berani berbicara.
“oh
ya, kok kamu tahu dia sedang terkena masalah ?” tanya joe mulai ingat dengan
pertanyaannya
“dia
membuntuti kita, maka dari itu aku membeli spion” jawab petter sambil menaiki
sepedanya.
“apa
sih mau kamu ? anak sok pinter !!” tanya joe kasar.
“aku
cuman mau berteman dengan kalian” katanya nyaris menangis.
“aku
tak sudi berteman dengan gadis sombong seperti mu” bentak joe.
“dan
gara-gara kamu petter terluka seperti ini” kalimat nya kali ini berhasil
membuat rey menangis. “aku kan sudah minta maaf, kalian jahat sekali” katanya
bersepeda cepat meninggal kan joe dan petter. “dasar tak tahu terimakasih”
umpat joe.
“sudah
lah joe, biarkan saja dia” petter bersepeda dengan satu tangan, ia tak kuat
memegang stir sepedanya.
Mereka
pun sampai ke sekolah, wajah petter sudah pucat pasi. Ia meletakkan sepeda
mereka di halaman sekolah, “hey lettakkan kembali sepeda kalian ke gudang jika
sudah tak di gunakan lagi” terdengar teriakan seseorang dari belakang mereka
yang ternyata adalah suara oddie.
“titip
dulu, petter terluka parah” teriak joe. Oddie yang melihat tangan petter
mengeluarkan banyak darah mengerti. Ia pun membawa sepeda itu ke gudang sepeda.
Selama
perjalanan ke klinik, mereka berpapasan dengan beberapa orang yang langsung
histeris, “ada apa dengan petter ?” tanya sebuah suara yang ternyata adalah si
kembar. “ceritanya nanti, bantu aku membawanya ke kllinik, aku tak tahu jalan
ke klinik” si jordan langsung membantu memapah petter, sedangkan yang satu nya
si jerry berlari ke arah klinik untuk mengecek ada bu laura atau tidak, kalau
tidak ada dia kan bisa mencarinya sebelum petter tiba.
Bu
laura adalah dokter sekolah, ia tinggal di klinik sekolah yang ada di lantai
dua bagian kanan. Sesampanya di sana bersyukur ternyata bu laura ada, “ada apa
jerry ? apa kau melakukan percobaan yang berbahaya lagi ?” tanya bu laura
tenang.
“tidak,
petter.. petter smith, terluka parah, aku ke sini duluan takut kau tak ada”
jerry ter engah-engah.
“astaga,
baik akan ku siapkan semua peralatan obatnya, luka apa ?”
“luka
benda tajam, pisau kemungkinan”
“astaga...”
bu laura berjalan ke sebuah lemari dan mengambil peralatan-peralatannya.
“itu
dia, itu...” teriak jerry. Bu laura langsung menengok. “astaga petter ada apa
dengan mu ? ayo bawa ke sini,baringkan dia di tempat tidur ini” petter sudah
pingsan ketika sampai di klinik.
“apa
yang terjadi ?” tanya nya sambil mengobati petter.
“ini
semua salah ku, dia menyelamatkan ku dari penjahat itu” terdengar sebuah suara
dari pintu klinik. Ternyata adalah rey, petter yang setengah sadar mendengar
suara itu.
“tadi
di sebrang danau aku hampir di jambret, tetapi aku berusaha menyelamatkan diri,
dan di saat yang tepat petter dan joe datang.” Rey menangis. “baiklah-baiklah.
Petter akan bermalam di klinik hari ini” kata bu laura,
“tapi
besok hari pertama ku masuk kelas” jawab petter lemah yang nyaris menjadi
sebuah bisikan.
“tapi
kesehatan mu mengkhawatirkan, lagi pula minggu pertama belum belajar, baru
perkenalan saja” bu laura membesarkan hatinya.
TO BE CONTINUED
(review please)

0 komentar
Post a Comment