“wow
menu pagi yang enak..” kata joe. Petter setuju sekali dengan pendapat joe,
mereka di hidangkan dengan nasi goreng, ayam goreng, ayam panggang, bayam,
wortel, kentang, dan makanan penutup berupa pai, tart coklat, dan puding labu.
“aku
ingin sekali berjumpa dengan juru masak nya,” joe berbicara dengaan mulut yang
penuh kentang goreng. “dia pasti senang makanan nya di hargai oleh orang lain”
jawab petter tersenyum. Ia meminum teh hangat nya, sangat cocok dengan suasana
yang dingin.
“hey,
nanti kita ke desa west wood yuk ?” ajak petter. “ah !! ide yang bagus sekali.
Kau membawa sepeda kan kesini ?” tanya joe bersemangat. “tentu saja !” jawab
petter. Mereka cepat-cepat menghabiskan makan mereka dan segera bergegas ke
gudang sepeda, sebelumnya mereka berpamitan kepada jodi supaya ia tak khawatir.
Sepanjang
koridor mereka berlari, mereka sama sekali tak berpapasan dengan orang lain
selama ke gudang sepeda. Sepertinya tak ada yang tertarik untuk keluar di cuaca
yang seperti ini. “eh tunggu ! sepertinya ada yang mengikuti kita ?” petter
berhenti dan menengok ke belakang ternyata tak ada apa-apa, dia yakin sekali
ada orang lain yang mengikuti mereka. Tetapi ketika ia menengok tak ada apa-apa
Ia hanya melihat sebuah rumah yang cukup besar di sana, rumah itu seperti nya
berlantai dua,cat nya serasi dengan kastil berwarna putih,tetapi di lantai dua
sebagian dindingnya terbuat dari kaca,namun petter tak dapat melihat ruangan
yang di lantai dua itu
“hanya
perasaan mu saja mungkin” jawab joe yang tidak melihat siapa-siapa di belakang
mereka.. “ah iya, mungkin saja, ya sudah lupakan, ayo kita ambil sepeda kita.”
Mereka masuk ke gudang sepeda.
banyak
sekali sepeda di sana, tak lama kemudian petter menemukan sepedanya, sepednya
cukup berbeda dengan yang lain, warna nya hijau cerah, tak ada sepeda berwarna
hijau lagi di sana selain milik nya, ia bersyukur sekali jadi tak perlu
repot-repot untuk mengecek nya satu per satu seperti yang di lakukan joe, kalau
saja sepeda-sepeda itu tak terkunci mungkin saja mereka sudah membawa asal
sepeda yang mana saja.
Sepeda
joe berwarna biru, dan nyaris semua sepeda disana berwarna biru. “apa ada
ciri-ciri khusus dari sepeda mu ?” tanya petter yang sudah bosan menunggu joe
yang tak kunjung menemukan sepedanya. “hmm, ada nama ku di bawah tempat duduk
nya” jawab joe. “oke aku bantu” lama mereka mencari dari sepeda satu ke sepeda
lainnya dan akhir nya ketemu juga.
“aku
punya saran, nanti kita mampir ke toko sepeda, kita ganti tempat duduk nya
dengan warna yang lain, hijau misalnya ? tak ada sepeda biru dengan tempat
duduk hijau, jadi kau dengan mudah bisa menemukannya” usul petter yang agak
kesal, karena mereka kehilangan waktu satu jam hanya untuk mencari sepeda joe.
“baikklah aku terima usul mu” joe tampak begitu lelah.
Jalan
menuju desa begitu sepi, mereka melewati jembatan danau yang tadi malam mereka
lewati, danau itu sepertinya sangat dalam, tapi sungguh indah
pemandangannya,tak lama kemudian jalan mereka mulai berkerikil dan ada sebuah
papan penunjuk jalan, lurus berarti stasiun, ke kiri berarti ke desa west wood
dan ke kanan berarti pantai west wood.
Mereka
langsung mengambil jalan ke kiri. Tak lama kemudian jalanan mereka
berangsur-angsur menjadi jalan beraspal, makin ke dalam makin ramai suasananya,
ternyata ini adalah sebuah kota kecil.
Mereka kini bersepeda sudah melintasi kota. pagi
hari yang sangat nyaman, seakan – akan mengundang penduduk-penduduk kota untuk
berjalan-jalan. Daerah perbelanjaan masih sangat ramai di kunjungi orang-orang
yang hendak berbelanja kebutuhannya atau sekedar melihat barang-barang yang di
pajang di jendela-jendela toko. Kedua restoran taman yang petter dan joe lewati
begitu ramai terisi penuh. Tak satu kursi pun terlihat kosong.
Mereka
tiba di sebuah kafetaria yang ramai juga tetapi masih ada tempat untuk mereka
berdua. Tempatnya strategis berada di persimpangan jalan. Mereka mendapatkan
tempat duduk di dekat kaca, mereka bisa melihat para pejalan kaki dari situ
mereka juga bisa melihat sepeda mereka terparkir. Mereka pun memesan
masing-masing coklat hangat dan sepotong fruitcake.
“aku
masih merasa ada yang mengikuti kita” kata petter. “ah hanya perasaan mu saja”
joe melihat suasana kafe itu, terlihat orang berbincang-bincang hangat.
“aku
harap seperti itu” tak lama kemudan pelayannya pun datang membawakan pesanan
mereka. “hmm fruitcake ini sangat lezat, aku akan mengusulkan kepada juru masak
sekolah untuk membuat ini sebagai menu penutup.” Kata joe.
“eh
? dimana sih letak dapur ?” tanya petter sambil menyeruput coklat hangat nya,
langsung membuat rasa dingin yang menyelimutinya menjadi lebih hangat. West
wood sangat dingin di musim seperti ini, letak nya yang di pegunungan, tanpa
musim seperti ini pun akan terasa dingin.
“tak
tahu, aku ingin sekali melihat-lihat dapur nya”
“sepertinya
dalam jangka waktu seminggu lagi, badan mu akan bertambah gemuk” cletuk petter
yang langsung di sambut tawa oleh joe, “tenang saja makan ku memang seperti ini
sewaktu di rumah. Tapi lihat ? badan ku tak gemuk-gemuk yang ada makin
meninggi” kata nya sambil tertawa.
“ayah
mu dulu juga bersekolah di sini ?” tanya petter. “tidak, ayah ku di sekolah
negeri” jawab nya sambil menyeruput coklat hangat nya. “ disini dingin sekali
ya. Aku tak bisa membayangkan anak-anak yang tinggal di asrama comet, dingin
nya seperti apa itu ya ? brrrr” joe bergidik
sendiri membayangkannya asrama komet yang terletak di puncak tertinggi di
menara sekolah mereka.
Mereka
berbicang-bincang lama sekali. Setelah puas mereka pun pergi ke toko sepeda
untuk membeli tempat duduk sepeda joe yang baru sedangkan petter membeli sebuah
spion untuk sepedanya. “ah ? untuk apa ?” joe agak bingung. “terkadang kita
membutuhkannya dari mata-mata” joe sama sekali tidak mengerti maksud dari
kalimat petter barusan.
“ah
tak usah kau fikirkan joe, ini untuk membedakan saja dari yang lain” petter
memasang langsung sepion sepedanya. “bahkan tanpa spion pun ku rasa sepeda mu
sudah cukup berbeda dari yang lain ?” joe masih bingung, tapi hanya di jawab
senyuman saja dari petter.
Setelah
selesai, mereka pergi ke kantor pos. “mau apa kau ke sini ?” tanya joe, “mau
numpang buang air besar” jawab petter asal. Sebenarnya ia hendak mengirimkan
surat untuk orang tua nya tentang hari pertamanya menginjakkan kaki di sekolah,
ia menceritakan semua, tentang sahabat baru nya .. joe, tentang club detective.
Karena ia menulisnya semalam, ia tak sempat menambahkan mengenai Pak Thom. Dia
malas untuk membuka amplop nya lagi, sehingga ia memutuskan untuk
menceritakannya di surat lainnya.
“aku
ingin sekali bermain ke rumah mu” kata joe ketika petter menyerahkan surat nya
ke petugas. “liburan smester besok ku undang kau untuk ke rumah ku, bersama si
kembar kalau ia mau” tawar petter yang langsung di sambut senang oleh joe.
Setelah
mengirim surat,mereka pun memutuskan kembali ke sekolah, karena seperti nya
akan turun hujan. Ketika di perjalanan yang cukup sepi petter mengajak joe untuk
berhenti dan berbalik lagi.
“ada
apa sih ?” tanya joe
“rey
dalam bahaya” jawab petter sambil menambah laju sepedanya menjadi lebih cepat.
“tahu
dari mana ?”
Petter
mengabaikan pertannyaan joe. Joe hanya mengangguk mengerti, ia mengurungkan
dulu semua pertanyaan nya. Dan menambah laju sepeda nya menjadi lebih cepat
lagi.
TO BE CONTINUED
(review please)

0 komentar
Post a Comment