Saturday, March 23, 2013

Club Detective School (part4)


“wow menu pagi yang enak..” kata joe. Petter setuju sekali dengan pendapat joe, mereka di hidangkan dengan nasi goreng, ayam goreng, ayam panggang, bayam, wortel, kentang, dan makanan penutup berupa pai, tart coklat, dan puding labu.
“aku ingin sekali berjumpa dengan juru masak nya,” joe berbicara dengaan mulut yang penuh kentang goreng. “dia pasti senang makanan nya di hargai oleh orang lain” jawab petter tersenyum. Ia meminum teh hangat nya, sangat cocok dengan suasana yang dingin.
“hey, nanti kita ke desa west wood yuk ?” ajak petter. “ah !! ide yang bagus sekali. Kau membawa sepeda kan kesini ?” tanya joe bersemangat. “tentu saja !” jawab petter. Mereka cepat-cepat menghabiskan makan mereka dan segera bergegas ke gudang sepeda, sebelumnya mereka berpamitan kepada jodi supaya ia tak khawatir.
Sepanjang koridor mereka berlari, mereka sama sekali tak berpapasan dengan orang lain selama ke gudang sepeda. Sepertinya tak ada yang tertarik untuk keluar di cuaca yang seperti ini. “eh tunggu ! sepertinya ada yang mengikuti kita ?” petter berhenti dan menengok ke belakang ternyata tak ada apa-apa, dia yakin sekali ada orang lain yang mengikuti mereka. Tetapi ketika ia menengok tak ada apa-apa Ia hanya melihat sebuah rumah yang cukup besar di sana, rumah itu seperti nya berlantai dua,cat nya serasi dengan kastil berwarna putih,tetapi di lantai dua sebagian dindingnya terbuat dari kaca,namun petter tak dapat melihat ruangan yang di lantai dua itu
“hanya perasaan mu saja mungkin” jawab joe yang tidak melihat siapa-siapa di belakang mereka.. “ah iya, mungkin saja, ya sudah lupakan, ayo kita ambil sepeda kita.” Mereka masuk ke gudang sepeda.
banyak sekali sepeda di sana, tak lama kemudian petter menemukan sepedanya, sepednya cukup berbeda dengan yang lain, warna nya hijau cerah, tak ada sepeda berwarna hijau lagi di sana selain milik nya, ia bersyukur sekali jadi tak perlu repot-repot untuk mengecek nya satu per satu seperti yang di lakukan joe, kalau saja sepeda-sepeda itu tak terkunci mungkin saja mereka sudah membawa asal sepeda yang mana saja.
Sepeda joe berwarna biru, dan nyaris semua sepeda disana berwarna biru. “apa ada ciri-ciri khusus dari sepeda mu ?” tanya petter yang sudah bosan menunggu joe yang tak kunjung menemukan sepedanya. “hmm, ada nama ku di bawah tempat duduk nya” jawab joe. “oke aku bantu” lama mereka mencari dari sepeda satu ke sepeda lainnya dan akhir nya ketemu juga.
“aku punya saran, nanti kita mampir ke toko sepeda, kita ganti tempat duduk nya dengan warna yang lain, hijau misalnya ? tak ada sepeda biru dengan tempat duduk hijau, jadi kau dengan mudah bisa menemukannya” usul petter yang agak kesal, karena mereka kehilangan waktu satu jam hanya untuk mencari sepeda joe. “baikklah aku terima usul mu” joe tampak begitu lelah.
Jalan menuju desa begitu sepi, mereka melewati jembatan danau yang tadi malam mereka lewati, danau itu sepertinya sangat dalam, tapi sungguh indah pemandangannya,tak lama kemudian jalan mereka mulai berkerikil dan ada sebuah papan penunjuk jalan, lurus berarti stasiun, ke kiri berarti ke desa west wood dan ke kanan berarti pantai west wood.
Mereka langsung mengambil jalan ke kiri. Tak lama kemudian jalanan mereka berangsur-angsur menjadi jalan beraspal, makin ke dalam makin ramai suasananya, ternyata ini adalah sebuah kota kecil.
Mereka  kini bersepeda sudah melintasi kota. pagi hari yang sangat nyaman, seakan – akan mengundang penduduk-penduduk kota untuk berjalan-jalan. Daerah perbelanjaan masih sangat ramai di kunjungi orang-orang yang hendak berbelanja kebutuhannya atau sekedar melihat barang-barang yang di pajang di jendela-jendela toko. Kedua restoran taman yang petter dan joe lewati begitu ramai terisi penuh. Tak satu kursi pun terlihat kosong.
Mereka tiba di sebuah kafetaria yang ramai juga tetapi masih ada tempat untuk mereka berdua. Tempatnya strategis berada di persimpangan jalan. Mereka mendapatkan tempat duduk di dekat kaca, mereka bisa melihat para pejalan kaki dari situ mereka juga bisa melihat sepeda mereka terparkir. Mereka pun memesan masing-masing coklat hangat dan sepotong fruitcake.
“aku masih merasa ada yang mengikuti kita” kata petter. “ah hanya perasaan mu saja” joe melihat suasana kafe itu, terlihat orang berbincang-bincang hangat.
“aku harap seperti itu” tak lama kemudan pelayannya pun datang membawakan pesanan mereka. “hmm fruitcake ini sangat lezat, aku akan mengusulkan kepada juru masak sekolah untuk membuat ini sebagai menu penutup.” Kata joe.
“eh ? dimana sih letak dapur ?” tanya petter sambil menyeruput coklat hangat nya, langsung membuat rasa dingin yang menyelimutinya menjadi lebih hangat. West wood sangat dingin di musim seperti ini, letak nya yang di pegunungan, tanpa musim seperti ini pun akan terasa dingin.
“tak tahu, aku ingin sekali melihat-lihat dapur nya”
“sepertinya dalam jangka waktu seminggu lagi, badan mu akan bertambah gemuk” cletuk petter yang langsung di sambut tawa oleh joe, “tenang saja makan ku memang seperti ini sewaktu di rumah. Tapi lihat ? badan ku tak gemuk-gemuk yang ada makin meninggi” kata nya sambil tertawa.
“ayah mu dulu juga bersekolah di sini ?” tanya petter. “tidak, ayah ku di sekolah negeri” jawab nya sambil menyeruput coklat hangat nya. “ disini dingin sekali ya. Aku tak bisa membayangkan anak-anak yang tinggal di asrama comet, dingin nya seperti apa itu ya ? brrrr”  joe bergidik sendiri membayangkannya asrama komet yang terletak di puncak tertinggi di menara sekolah mereka.
Mereka berbicang-bincang lama sekali. Setelah puas mereka pun pergi ke toko sepeda untuk membeli tempat duduk sepeda joe yang baru sedangkan petter membeli sebuah spion untuk sepedanya. “ah ? untuk apa ?” joe agak bingung. “terkadang kita membutuhkannya dari mata-mata” joe sama sekali tidak mengerti maksud dari kalimat petter barusan.
“ah tak usah kau fikirkan joe, ini untuk membedakan saja dari yang lain” petter memasang langsung sepion sepedanya. “bahkan tanpa spion pun ku rasa sepeda mu sudah cukup berbeda dari yang lain ?” joe masih bingung, tapi hanya di jawab senyuman saja dari petter.
Setelah selesai, mereka pergi ke kantor pos. “mau apa kau ke sini ?” tanya joe, “mau numpang buang air besar” jawab petter asal. Sebenarnya ia hendak mengirimkan surat untuk orang tua nya tentang hari pertamanya menginjakkan kaki di sekolah, ia menceritakan semua, tentang sahabat baru nya .. joe, tentang club detective. Karena ia menulisnya semalam, ia tak sempat menambahkan mengenai Pak Thom. Dia malas untuk membuka amplop nya lagi, sehingga ia memutuskan untuk menceritakannya di surat lainnya.
“aku ingin sekali bermain ke rumah mu” kata joe ketika petter menyerahkan surat nya ke petugas. “liburan smester besok ku undang kau untuk ke rumah ku, bersama si kembar kalau ia mau” tawar petter yang langsung di sambut senang oleh joe.
Setelah mengirim surat,mereka pun memutuskan kembali ke sekolah, karena seperti nya akan turun hujan. Ketika di perjalanan yang cukup sepi petter mengajak joe untuk berhenti dan berbalik lagi.
“ada apa sih ?” tanya joe
“rey dalam bahaya” jawab petter sambil menambah laju sepedanya menjadi lebih cepat.
“tahu dari mana ?”
Petter mengabaikan pertannyaan joe. Joe hanya mengangguk mengerti, ia mengurungkan dulu semua pertanyaan nya. Dan menambah laju sepeda nya menjadi lebih cepat lagi.


TO BE CONTINUED
(review please)

0 komentar

Post a Comment