Terdengar
suara pengumuman di kumandangkan. “ kita akan sampai west wood 5 menit
lagi.silahkan tinggal semua barang-barang anda, barang anda akan di antarkan
secara terpisah”.
Petter
terlihat sangat tegang, sama hal nya seperti joe, wajah joe yang coklat
tiba-tiba saja berubah menjadi putih, putih pucat tentu saja. Mereka segera
bergabung bersama dengan anak-anak yang lain di lorong.
Kereta
itu sudah mulai berjalan lambat, dan ketika berhenti semuanya langsung
berdesakan untuk keluar. Petter bergidik, sangat dingin di sini, wajar kalau
seragam nya berlapis-lapis, ia mengenakan jasnya yang dari tadi hanya di
sandarkan di pundaknya.
Ia
mengenakan dasi berwarna hijau dengan garis perak sama seperti yang di pakai
joe, tanpa bertanya lagi mereka sudah tahu bahwa mereka satu asrama. Mereka
senang nya bukan main. dan ketika melihat ke arah rey ternyata ia mengenakan
dasi yang serupa, wajah senang joe berubah menjadi wajah kekecewaan, ia sama
sekali tak menyukai gadis itu sejak awal pertemuannya di kereta.
Rey
menghampir petter dan joe dengan senyum merekah di bibir nya. “aku baru
mendapatkan dasi ku hari ini, ternyata kita satu asrama ya ?” katanya senang,
petter berusaha ikut tersenyum senang walaupun ia juga merasa kesal dengan rey.
“oh ya” jawab petter singkat.
“anak
kelas satu ke sini” terdengar suara seseorang yang bertubuh tinggi dan kurus
sedang membawa sebuah senter yang cukup besar. Semua anak-anak kelas satu
mengerumuninya. “kita akan ke sekolah dengan kereta kuda ini” katanya, pria itu
mengabsen satu-satu, setiap kereta berisi 4 orang anak. Petter dan joe satu
kereta dengan rey dan seorang gadis lainnya yang setelah berkenalan di ketahui
namanya adalah bonna, dia tinggal di asrama black eye.
“asrama
black eye itu seperti apa ?” tanya petter kepada joe, tapi langsung di jaawab
oleh rey, “asrama black eye itu terletak di tengah danau buatan di sekolah,
sehingga jika di lihat dari atas seperi mata hitam” katanya dengan suara yang
sok.
“sok
tau” gumam joe, tapi tampak nya rey mendengar nya, karena dia langsung menjawab
“aku membacanya di buku sejarah sekolah” katanya beringsut.
“oh”
jawab joe tak menggubrisnya.
Pemandangan
di kanan kiri merek tak begitu menyenangkan, kanan kiri mereka gelap sekali
petter menduga sekolah ini ada di tengah hutan belantara yang tak ada
kehidupannya.
“sebentar
lagi kita akan sampai di west wood setelah kita melewati pepohonan itu” kata rey.
Walaupun petter tak begitu menyukai rey tetapi ia cukup senang ketika rey
bicara kalau sebentara lagi mereka akan tiba di sekolah itu, petter sudah tak
sabar melihat sekolah nya.
Tak
lama kemudian jalanan itu mulai melebar, tampak sebuah pulau di tengan danau
yang luas, di pulau itu bertengger sebuah kastil yang megah dan mewah, seperti
istana-istana yang ada di dongeng-dongeng. Kastil itu berwarna putih, banyak
sekali menara-menara nya, kastil itu indah sekali di bawah langit yang penuh
bintang.
“tenang
saja, ada sebuah jembatan untuk menuju ke kastil itu, jadi kita tak perlu
repot-repot berenang di danau dalam cuaca yang sedingin ini.” Kata pria yang
mereka temui setelah mereka turun dari kereta tadi.
Mereka
menikmati perjalanan, danau itu memantulkan cahaya bulan, jembatan itu lumayan
besar, dapat memuat 3 kereta kuda yang berjejer. Petter senang bukan main, ia
tak sabar mengirim surat untuk orang tua nya.
“kurasa,
aku akan betah tinggal di sini” celetuk joe, petter mengangguk setuju. “semua
sudah ada di sini kan ?” kata orang itu.
Mereka
semua berjalan manaiki tangga menuju sebuah pintu yang sangat tinggi dan
berukir indah. Pintu itu berwarna putih mengkilat. Seperti tak pernah kotor
sama sekal, lantai nya pun berwarna putih bening. Tak lama kemudian pintu itu
terbuka. Dan munculah seorang pria yang sudah cukup berumur, tampangnya galak
sekali.
“ini
mereka kelas satu Pak Thom” kata orang itu.
“ia
terimakasih hugo. Biar ku ambil alih mereka”
Tiba-tiba
Pak Thom mengajak mereka semua menjauh dari pintu besar tadi. Mereka berjalan
melewati beberapa tangga, dan koridor. Sampailah mereka di sebuah pintu lagi. Pak
Thom membuka pintu itu, dan ternyata di ruangan itu terdapat banyak sekali
bangku, mereka semua di persilahkan untuk masuk ke ruangan itu,
“apakah kami akan di sleksi ulang untuk
meyakinkan sekolah ? mungkin kah setelah test ini akan ada yang harus di
keluarkan karena di anggap otaknya tidak mampu ?bagaimana jika aku salah satu
yang akan di keluarkan ?” fikiran-fikiran seperti itu selalu berkecambuk di
dalam benak petter.
“kalian
akan menghadapi sebuah test, untuk mengetahui kalian layak atau tidak untuk
bergabung di club detective” Pak Thom berkata dengan suara yang mantab.
Langsung saja seisi ruangan di penuhi bisik-bisik.
“tenang
!!” suara Pak Thom mengeras. Seisi ruangan langsung terdiam. “cari tempat duduk
kalian, setelah siap akan saya bagikan soal nya.” Langsung semua anak-anak
bergegas menuju bangku mereka masing-masing. Mereka tak ingin membuat guru ini
marah.
Setelah
semua nya duduk dengan tenang, soal pun di bagikan. “kerjakan soal nya jika
tidak bisa silahkan di kosongkan dan di kumpulkan saja, langsung menuju aula
besar untuk pesta tahun ajaran baru, kalian akan di bimbing oleh oddi.” Kata Pak
Thom.
5
menit setelah soal di bagikan, banyak sekali anak-anak yang sudah menyerah dan
mulai mengumpulkan jawaban mereka yang kosong. Separuh kelas sudah mulai
kosong. Petter masih fokus mengerjakan soalnya, soalnya hanya 5, tetapi
sulitnya bukan main.
Waktu
pun sudah habis, ternyata tinggal 15 orang yang bertahan. Di antaranya joe dan rey.
“soal nya cukup sulit ya” kata joe
ketika sudah ada diluar ruangan. “tapi, kau pasti bisa mengerjakan semua kan ?”
tana joe.
“hmm, aku tak yakin, bagai mana dengan mu ?”
“aku
kerjakan semua, tapi aku tak tahu benar semua atau tidak, aku berharap bisa
masuk ke club bersama mu” kata joe.
Mereka
pun melanjutkan perjalanan menuju aula untuk mengikuti pesta tahun ajaran baru
yang di katakan Pak Thom. Untung saja mereka di antar kan oleh oddi si pekerja
rumah tangga di sekolah ini, jadi mereka tidak nyasar.
Sesampainya
di aula besar joe dan petter tercengang, luas sekali aula itu, semua nya
bernuansa putih,dari dinding, lantai, kayu meja dan kursi,taplak
meja,serbet,semua nya putih, lampu hias yang sangat besar bertengger di tengah
ruangan. Empat meja panjang tersusun,di masing-masing meja duduk murid-murid
sambil asyik mengobrol. Ketika petter dan joe masuk, semua mata tertuju pada
mereka, terdengar bisik-bisik membicarakan petter.
“jadi
itu anak kapolri ?” petter mendengar kasak kusuk itu. “tampan sekali” petter
senang ternyata mereka semua menerima kehadirannya dengan baik. “seperti nya
kau mulai memiliki banyak penggemar. Lihat wanita-wanita itu, mereka semua
menatap mu kagum” kata joe sambil terus berjalan.
Ketika
mereka melihat jordan dan jerry mereka langsung bergabung. “hey, bagaimana test
nya ?” tanya jerry. “ lumayan” jawab joe, “bagaimana dengan mu petter ?” tanya
jordan. “lumayan” jawab petter. “oh ya, Pak Thom itu orang nya galak ya” petter
teringat akan pertemuan pertama nya dengan Pak Thom tadi. “tidak juga, beliau
orang yang cukup tegas. Wakil kepala sekolah. sedang kan yang di sana yang
duduk di tengah yang sedang berbicara dengan Pak Thom namanya Pak Oskar ,
kepala sekolah di sini. Beliau pembimbing langsung club detective.” Jelas jerry
dan jordan bergantian.
Pak
oskar kira-kira 10 tahun lebih tua dari pak thomas, kira-kira masih berumur 40
tahun, tubuhnya masih segar dan gagah.
Pak
Oskar berdiri dan tersenyum ke arah semua murid. Ia memulai pidatonya. “selamat
malam semua.. selamat datang di west
wood bagi murid-murid baru. Tahun ini adalah tahun yang berbeda. Berbeda dari
tahun-tahun sebelumnya. Club detective tahun ini akan kembali aktif !” semua
bersorak senang, di antara mereka menebak-nebak siapa yang akan terpilih, tentu
saja, semua murid yang ada menebak petter pasti menjadi anggota club detective.
“tenang
semua” Pak Oskar berbicara menggunakan microfon, tetapi suara nya masih kalah
dengan kasak kusuk yang menggebu di aula. “yang berhasil masuk dengan nilai
yang sangat sempurna adalah..... petter smith...” semua bersorak senang, ada
yang memukul-mukul meja, ada yang menghentakkan kakinya ke lantai dan
lain-lain, suara mereka begitu keras memekakan telinga, makin banyak penggemar
petter.
“kau
masuk petter, masuk !! dengan nilai
sempurna !!! selamat ya” joe menepuk pundak petter.
“silahkan
maju ke sini nak....” kata Pak Oskar. Wajah petter memerah, semua mata tertuju
pada nya dan meng-elu elukan nama nya, sudah seperti pahlawan yang selamat dari
sebuah peperangan.
“iya,
tenang semua... anggota club detective tak hanya satu, tetapi tiga...” semua
murid-murid yang ada langsung terdiam, tak ada yang bersuara sama sekali....
yang ke dua adalah rebecca mountana !!” terdengar suara tepuk tangan meriah,
tak semeriah ketika nama petter di sebut, rey berjalan ke arah petter dan
menyodorkan tangan nya untuk bersalaman dengan petter, petter dengan enggan
menjabat tangan rey, dia tak senang dengan rey, bukan karena dia terpilih atau
menjadi saingan petter, tetapi petter tak menyukai rey karena sifat nya yang
sok tau dan ntah benar atau tidak omongannya.
“dan
yang ke tiga......” semua kembali diam, bahkan murid-murid kelas satu banyak
yang menahan nafas, kalau-kalau ada ke ajaiban nama mereka tiba-tiba di sebut.
“yang
ke tiga adalah.... joshua sandy...!!!” tepuk tangan bergemuruh di dalam aula,
terdengar suara si kembar “ dia adikku, lihat di adikku” triak jerry dan jordan
kepada teman-temannya. Joe tak menyangka dirinya bisa masuk club detective
sekolah. dia bermimpi pun tak pernah. Wajahnya begitu merah, dia tersenyum
lebar dan berjalan ke arah petter.
“kau
hebat sekali joe, kau masuk !! kita berdua masuk !!” mereka sama sekali tidak
mempedulikan rey. Saat rey hendak menjabat tangan joe, joe mengabaikan nya.
Pidato
pun kembali di kumandangkan. “iya, ini lah anak – anak dengan otak brilian,
bukan berarti kalian semua tidak brilian, kalian pun brilian tetapi bukan di
bidang dunia penyelidikan” tepuk tangan kembali terdengar dari segala penjuru
aula.
“akhirnya,
sekolah kita menemukan kembali para detective-detective cilik ini setelah 5
tahun tak pernah mendapatkannya. Mari kita nikmati menu kita malam ini !!”
triak Pak Oskar bersemangat. Puluhan pelayan berhamburan ke meja makan untuk
meletakkan hidangan.
Petter,
joe, dan rey kembali ke tempat duduk mereka. Terhidang di meja makan begitu
banyak makanan. Ayam panggang, ayam goreng, sate, gulai, kentang goreng,
kentang rebus, sosis, steak, puding, bahkan beraneka ragam coklat juga ada.
Petter
mulai mengisi piring nya sedikit-sedikit. Semua nya terasa enak. Ia sungguh
menikmati perjamuan pertamanya di west wood. “wow ini baru namanya pesta”
petter mendengar gumaman joe di sebelahnya, tangan kanan nya memegang paha
ayam, tangan kirinya memegang beberapa tusuk sate kambing.
“hey,
apa kah kau tak tahu apa gunanya piring, sendok dan garfu ?” terdengar suara rey
yang begitu sinis, jelas ia tak menyukai cara makan joe.
“urusi
saja urusan mu, kalau kau tak suka, kau bisa makan jauh-jauh dari ku !!” bentak
joe sambil tetap memakan makanannya. Rey menghentakkan kaki nya dan pergi
meninggalkan meja itu.
“dia
marah” kata petter tak enak. “biarkan saja, jika aku punya tongkat harry
potter, sudah ku buat diri nya menjadi bebek buruk rupa !” joe begitu tampak
begitu kesal.
Petter
memandang meja di belakanng nya yang ternyata rey sedang duduk sendirian, wajah
nya di tutupi oleh ke dua telapak tangannya, sepertinya ia sedang menangis.
“joe,
sepertinya dia menangis”
“siapa
?” joe masih asyik dengan makannya, dia makan banyak sekali, petter heran
walaupun dia makan dengan porsi jumbo tetapi badannya tidak gemuk, tinggi
petter dan joe sama, untuk seumurannya mereka cukup tinggi, mereka seperti anak
kelas 2.
“rey”
jawab petter singkat.
“ah
biarkan saja, sekali-sekali dia perlu di ginikan, supaya dia tidak terlalu
sombong dan sok ! lihat saja, dia sok pintar sekali, tetapi buktinya nilai mu
lebih tinggi di bandingkan dengannya ! ia hanya omong kosong !” cerca joe tanpa
jeda karena begitu bencinya dia kepada rey.
“tetapi
ini tidak berlebihan kan ?”
“tenang
saja, setelah ini pasti dia akan tetap menyombong lagi.”
Petter
memakan tart caramel nya. Tiba-tiba saja para wanita datang menghampirinya, tak
hanya anak kelas satu, bahkan kakak kelas banyak yang datang. “kau tampan
sekali petter, nama ku lovely” banyak sekali yang mengajak nya berkenalan,
petter merasa sangat bosan dengan semua ini.
Untung
saja ada seorang pria datang menghampiri mereka dan mengusir mereka semua. “oh
terima kasih” kata petter senang nya bukan main. “iya sama-sama, namaku jodi
sandy” dia mengulurkan tangannya dan di sambut senang dengan petter. Pria itu
jangkung, kulitnya coklat. “ah, sandy bersaudarakah ?” tanya petter. jodi mengangguk.
“kau tahu ?” tanya nya senang.
“tentu,
joe teman ku, kami bertemu di kereta tadi”
jawab petter. “oh begitu. Aku di sini ketua asrama, jadi kalau ada
apa-apa kau bisa katakan pada ku, aku akan membantu mu” katanya senang. Petter
mengangguk dan jodi pergi lagi.
“hey,
kau masih punya kakak lagi disini ?” tanya petter.
“ia,
namanya jodi, dia sangat menyebalkan, dia di kelas 5 sekarang. Jordan dan jerry
selalu memanggilnya honey joney. Ayah dan ibu ku sangat menyayangi nya, dia
sangat pintar.”
“ah
kau lebih pintar dari nya, buktinya kau bisa masuk ke club detective, sedangkan
dia tidak.” Petter mencoba menghiburnya.
“itu
karena dia tak mengikuti seleksi nya, dia tak mau menjadi detective maka dari
itu ia tidak terpilih. Ia lebih ingin menjadi seorang menteri” jelas joe.
“sudah
lah jangan seperti itu, kau jauh lebih baik dari pada dia” petter menghiburnya.
“ayah
ibu mu bekerja di kementrian ?” tanya petter.
“tidak,
ayah ku seorang kepala polisi daerah, dan ibu ku hanya berdagang di rumah” kata
nya sambil mengambil pai apel. Petter hanya mengangguk.
Petter
yang merasa hangat dan mengantuk melihat ke arah meja para guru, di sana Pak
Thom dan Pak Oskar tampak mendiskusikan sesuatu. sedangkan huggo dan oddi
sepertinya mabuk berat.
Akhirnya
pesta pun selesai tepat sekitar pukul 12 malam. untung saja besok minggu
sehingga tak perlu repot-repot bangun pagi untuk pergi ke kelas.
TO BE CONTINUED
(review please)

0 komentar
Post a Comment