Thursday, March 21, 2013

Club Detective School (part2)


Terdengar suara pengumuman di kumandangkan. “ kita akan sampai west wood 5 menit lagi.silahkan tinggal semua barang-barang anda, barang anda akan di antarkan secara terpisah”.
Petter terlihat sangat tegang, sama hal nya seperti joe, wajah joe yang coklat tiba-tiba saja berubah menjadi putih, putih pucat tentu saja. Mereka segera bergabung bersama dengan anak-anak yang lain di lorong.
Kereta itu sudah mulai berjalan lambat, dan ketika berhenti semuanya langsung berdesakan untuk keluar. Petter bergidik, sangat dingin di sini, wajar kalau seragam nya berlapis-lapis, ia mengenakan jasnya yang dari tadi hanya di sandarkan di pundaknya.
Ia mengenakan dasi berwarna hijau dengan garis perak sama seperti yang di pakai joe, tanpa bertanya lagi mereka sudah tahu bahwa mereka satu asrama. Mereka senang nya bukan main. dan ketika melihat ke arah rey ternyata ia mengenakan dasi yang serupa, wajah senang joe berubah menjadi wajah kekecewaan, ia sama sekali tak menyukai gadis itu sejak awal pertemuannya di kereta.
Rey menghampir petter dan joe dengan senyum merekah di bibir nya. “aku baru mendapatkan dasi ku hari ini, ternyata kita satu asrama ya ?” katanya senang, petter berusaha ikut tersenyum senang walaupun ia juga merasa kesal dengan rey. “oh ya” jawab petter singkat.
“anak kelas satu ke sini” terdengar suara seseorang yang bertubuh tinggi dan kurus sedang membawa sebuah senter yang cukup besar. Semua anak-anak kelas satu mengerumuninya. “kita akan ke sekolah dengan kereta kuda ini” katanya, pria itu mengabsen satu-satu, setiap kereta berisi 4 orang anak. Petter dan joe satu kereta dengan rey dan seorang gadis lainnya yang setelah berkenalan di ketahui namanya adalah bonna, dia tinggal di asrama black eye.
“asrama black eye itu seperti apa ?” tanya petter kepada joe, tapi langsung di jaawab oleh rey, “asrama black eye itu terletak di tengah danau buatan di sekolah, sehingga jika di lihat dari atas seperi mata hitam” katanya dengan suara yang sok.
“sok tau” gumam joe, tapi tampak nya rey mendengar nya, karena dia langsung menjawab “aku membacanya di buku sejarah sekolah” katanya beringsut.
“oh” jawab joe tak menggubrisnya.
Pemandangan di kanan kiri merek tak begitu menyenangkan, kanan kiri mereka gelap sekali petter menduga sekolah ini ada di tengah hutan belantara yang tak ada kehidupannya.
“sebentar lagi kita akan sampai di west wood setelah kita melewati pepohonan itu” kata rey. Walaupun petter tak begitu menyukai rey tetapi ia cukup senang ketika rey bicara kalau sebentara lagi mereka akan tiba di sekolah itu, petter sudah tak sabar melihat sekolah nya.
Tak lama kemudian jalanan itu mulai melebar, tampak sebuah pulau di tengan danau yang luas, di pulau itu bertengger sebuah kastil yang megah dan mewah, seperti istana-istana yang ada di dongeng-dongeng. Kastil itu berwarna putih, banyak sekali menara-menara nya, kastil itu indah sekali di bawah langit yang penuh bintang.
“tenang saja, ada sebuah jembatan untuk menuju ke kastil itu, jadi kita tak perlu repot-repot berenang di danau dalam cuaca yang sedingin ini.” Kata pria yang mereka temui setelah mereka turun dari kereta tadi.
Mereka menikmati perjalanan, danau itu memantulkan cahaya bulan, jembatan itu lumayan besar, dapat memuat 3 kereta kuda yang berjejer. Petter senang bukan main, ia tak sabar mengirim surat untuk orang tua nya.
“kurasa, aku akan betah tinggal di sini” celetuk joe, petter mengangguk setuju. “semua sudah ada di sini kan ?” kata orang itu.
Mereka semua berjalan manaiki tangga menuju sebuah pintu yang sangat tinggi dan berukir indah. Pintu itu berwarna putih mengkilat. Seperti tak pernah kotor sama sekal, lantai nya pun berwarna putih bening. Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Dan munculah seorang pria yang sudah cukup berumur, tampangnya galak sekali.
“ini mereka kelas satu Pak Thom” kata orang itu.
“ia terimakasih hugo. Biar ku ambil alih mereka”
Tiba-tiba Pak Thom mengajak mereka semua menjauh dari pintu besar tadi. Mereka berjalan melewati beberapa tangga, dan koridor. Sampailah mereka di sebuah pintu lagi. Pak Thom membuka pintu itu, dan ternyata di ruangan itu terdapat banyak sekali bangku, mereka semua di persilahkan untuk masuk ke ruangan itu,
 “apakah kami akan di sleksi ulang untuk meyakinkan sekolah ? mungkin kah setelah test ini akan ada yang harus di keluarkan karena di anggap otaknya tidak mampu ?bagaimana jika aku salah satu yang akan di keluarkan ?” fikiran-fikiran seperti itu selalu berkecambuk di dalam benak petter.
“kalian akan menghadapi sebuah test, untuk mengetahui kalian layak atau tidak untuk bergabung di club detective” Pak Thom berkata dengan suara yang mantab. Langsung saja seisi ruangan di penuhi bisik-bisik.
“tenang !!” suara Pak Thom mengeras. Seisi ruangan langsung terdiam. “cari tempat duduk kalian, setelah siap akan saya bagikan soal nya.” Langsung semua anak-anak bergegas menuju bangku mereka masing-masing. Mereka tak ingin membuat guru ini marah.
Setelah semua nya duduk dengan tenang, soal pun di bagikan. “kerjakan soal nya jika tidak bisa silahkan di kosongkan dan di kumpulkan saja, langsung menuju aula besar untuk pesta tahun ajaran baru, kalian akan di bimbing oleh oddi.” Kata Pak Thom.
5 menit setelah soal di bagikan, banyak sekali anak-anak yang sudah menyerah dan mulai mengumpulkan jawaban mereka yang kosong. Separuh kelas sudah mulai kosong. Petter masih fokus mengerjakan soalnya, soalnya hanya 5, tetapi sulitnya bukan main.
Waktu pun sudah habis, ternyata tinggal 15 orang yang bertahan. Di antaranya joe dan rey. “soal nya cukup sulit ya” kata  joe ketika sudah ada diluar ruangan. “tapi, kau pasti bisa mengerjakan semua kan ?” tana joe.
 “hmm, aku tak yakin, bagai mana dengan mu ?”
“aku kerjakan semua, tapi aku tak tahu benar semua atau tidak, aku berharap bisa masuk ke club bersama mu” kata joe.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju aula untuk mengikuti pesta tahun ajaran baru yang di katakan Pak Thom. Untung saja mereka di antar kan oleh oddi si pekerja rumah tangga di sekolah ini, jadi mereka tidak nyasar.
Sesampainya di aula besar joe dan petter tercengang, luas sekali aula itu, semua nya bernuansa putih,dari dinding, lantai, kayu meja dan kursi,taplak meja,serbet,semua nya putih, lampu hias yang sangat besar bertengger di tengah ruangan. Empat meja panjang tersusun,di masing-masing meja duduk murid-murid sambil asyik mengobrol. Ketika petter dan joe masuk, semua mata tertuju pada mereka, terdengar bisik-bisik membicarakan petter.
“jadi itu anak kapolri ?” petter mendengar kasak kusuk itu. “tampan sekali” petter senang ternyata mereka semua menerima kehadirannya dengan baik. “seperti nya kau mulai memiliki banyak penggemar. Lihat wanita-wanita itu, mereka semua menatap mu kagum” kata joe sambil terus berjalan.
Ketika mereka melihat jordan dan jerry mereka langsung bergabung. “hey, bagaimana test nya ?” tanya jerry. “ lumayan” jawab joe, “bagaimana dengan mu petter ?” tanya jordan. “lumayan” jawab petter. “oh ya, Pak Thom itu orang nya galak ya” petter teringat akan pertemuan pertama nya dengan Pak Thom tadi. “tidak juga, beliau orang yang cukup tegas. Wakil kepala sekolah. sedang kan yang di sana yang duduk di tengah yang sedang berbicara dengan Pak Thom namanya Pak Oskar , kepala sekolah di sini. Beliau pembimbing langsung club detective.” Jelas jerry dan jordan bergantian.
Pak oskar kira-kira 10 tahun lebih tua dari pak thomas, kira-kira masih berumur 40 tahun, tubuhnya masih segar dan gagah.
Pak Oskar berdiri dan tersenyum ke arah semua murid. Ia memulai pidatonya. “selamat malam  semua.. selamat datang di west wood bagi murid-murid baru. Tahun ini adalah tahun yang berbeda. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Club detective tahun ini akan kembali aktif !” semua bersorak senang, di antara mereka menebak-nebak siapa yang akan terpilih, tentu saja, semua murid yang ada menebak petter pasti menjadi anggota club detective.
“tenang semua” Pak Oskar berbicara menggunakan microfon, tetapi suara nya masih kalah dengan kasak kusuk yang menggebu di aula. “yang berhasil masuk dengan nilai yang sangat sempurna adalah..... petter smith...” semua bersorak senang, ada yang memukul-mukul meja, ada yang menghentakkan kakinya ke lantai dan lain-lain, suara mereka begitu keras memekakan telinga, makin banyak penggemar petter.
“kau masuk  petter, masuk !! dengan nilai sempurna !!! selamat ya” joe menepuk pundak petter.
“silahkan maju ke sini nak....” kata Pak Oskar. Wajah petter memerah, semua mata tertuju pada nya dan meng-elu elukan nama nya, sudah seperti pahlawan yang selamat dari sebuah peperangan.
“iya, tenang semua... anggota club detective tak hanya satu, tetapi tiga...” semua murid-murid yang ada langsung terdiam, tak ada yang bersuara sama sekali.... yang ke dua adalah rebecca mountana !!” terdengar suara tepuk tangan meriah, tak semeriah ketika nama petter di sebut, rey berjalan ke arah petter dan menyodorkan tangan nya untuk bersalaman dengan petter, petter dengan enggan menjabat tangan rey, dia tak senang dengan rey, bukan karena dia terpilih atau menjadi saingan petter, tetapi petter tak menyukai rey karena sifat nya yang sok tau dan ntah benar atau tidak omongannya.
“dan yang ke tiga......” semua kembali diam, bahkan murid-murid kelas satu banyak yang menahan nafas, kalau-kalau ada ke ajaiban nama mereka tiba-tiba di sebut.
“yang ke tiga adalah.... joshua sandy...!!!” tepuk tangan bergemuruh di dalam aula, terdengar suara si kembar “ dia adikku, lihat di adikku” triak jerry dan jordan kepada teman-temannya. Joe tak menyangka dirinya bisa masuk club detective sekolah. dia bermimpi pun tak pernah. Wajahnya begitu merah, dia tersenyum lebar dan berjalan ke arah petter.
“kau hebat sekali joe, kau masuk !! kita berdua masuk !!” mereka sama sekali tidak mempedulikan rey. Saat rey hendak menjabat tangan joe, joe mengabaikan nya.
Pidato pun kembali di kumandangkan. “iya, ini lah anak – anak dengan otak brilian, bukan berarti kalian semua tidak brilian, kalian pun brilian tetapi bukan di bidang dunia penyelidikan” tepuk tangan kembali terdengar dari segala penjuru aula.
“akhirnya, sekolah kita menemukan kembali para detective-detective cilik ini setelah 5 tahun tak pernah mendapatkannya. Mari kita nikmati menu kita malam ini !!” triak Pak Oskar bersemangat. Puluhan pelayan berhamburan ke meja makan untuk meletakkan hidangan.
Petter, joe, dan rey kembali ke tempat duduk mereka. Terhidang di meja makan begitu banyak makanan. Ayam panggang, ayam goreng, sate, gulai, kentang goreng, kentang rebus, sosis, steak, puding, bahkan beraneka ragam coklat juga ada.
Petter mulai mengisi piring nya sedikit-sedikit. Semua nya terasa enak. Ia sungguh menikmati perjamuan pertamanya di west wood. “wow ini baru namanya pesta” petter mendengar gumaman joe di sebelahnya, tangan kanan nya memegang paha ayam, tangan kirinya memegang beberapa tusuk sate kambing.
“hey, apa kah kau tak tahu apa gunanya piring, sendok dan garfu ?” terdengar suara rey yang begitu sinis, jelas ia tak menyukai cara makan joe.
“urusi saja urusan mu, kalau kau tak suka, kau bisa makan jauh-jauh dari ku !!” bentak joe sambil tetap memakan makanannya. Rey menghentakkan kaki nya dan pergi meninggalkan meja itu.
“dia marah” kata petter tak enak. “biarkan saja, jika aku punya tongkat harry potter, sudah ku buat diri nya menjadi bebek buruk rupa !” joe begitu tampak begitu kesal.
Petter memandang meja di belakanng nya yang ternyata rey sedang duduk sendirian, wajah nya di tutupi oleh ke dua telapak tangannya, sepertinya ia sedang menangis.
“joe, sepertinya dia menangis”
“siapa ?” joe masih asyik dengan makannya, dia makan banyak sekali, petter heran walaupun dia makan dengan porsi jumbo tetapi badannya tidak gemuk, tinggi petter dan joe sama, untuk seumurannya mereka cukup tinggi, mereka seperti anak kelas 2.
“rey” jawab petter singkat.
“ah biarkan saja, sekali-sekali dia perlu di ginikan, supaya dia tidak terlalu sombong dan sok ! lihat saja, dia sok pintar sekali, tetapi buktinya nilai mu lebih tinggi di bandingkan dengannya ! ia hanya omong kosong !” cerca joe tanpa jeda karena begitu bencinya dia kepada rey.
“tetapi ini tidak berlebihan kan ?”
“tenang saja, setelah ini pasti dia akan tetap menyombong lagi.”
Petter memakan tart caramel nya. Tiba-tiba saja para wanita datang menghampirinya, tak hanya anak kelas satu, bahkan kakak kelas banyak yang datang. “kau tampan sekali petter, nama ku lovely” banyak sekali yang mengajak nya berkenalan, petter merasa sangat bosan dengan semua ini.
Untung saja ada seorang pria datang menghampiri mereka dan mengusir mereka semua. “oh terima kasih” kata petter senang nya bukan main. “iya sama-sama, namaku jodi sandy” dia mengulurkan tangannya dan di sambut senang dengan petter. Pria itu jangkung, kulitnya coklat. “ah, sandy bersaudarakah ?” tanya petter. jodi mengangguk. “kau tahu ?” tanya nya senang.
“tentu, joe teman ku, kami bertemu di kereta tadi”  jawab petter. “oh begitu. Aku di sini ketua asrama, jadi kalau ada apa-apa kau bisa katakan pada ku, aku akan membantu mu” katanya senang. Petter mengangguk dan jodi pergi lagi.
“hey, kau masih punya kakak lagi disini ?” tanya petter.
“ia, namanya jodi, dia sangat menyebalkan, dia di kelas 5 sekarang. Jordan dan jerry selalu memanggilnya honey joney. Ayah dan ibu ku sangat menyayangi nya, dia sangat pintar.”
“ah kau lebih pintar dari nya, buktinya kau bisa masuk ke club detective, sedangkan dia tidak.” Petter mencoba menghiburnya.
“itu karena dia tak mengikuti seleksi nya, dia tak mau menjadi detective maka dari itu ia tidak terpilih. Ia lebih ingin menjadi seorang menteri” jelas joe.
“sudah lah jangan seperti itu, kau jauh lebih baik dari pada dia” petter menghiburnya.
“ayah ibu mu bekerja di kementrian ?” tanya petter.
“tidak, ayah ku seorang kepala polisi daerah, dan ibu ku hanya berdagang di rumah” kata nya sambil mengambil pai apel. Petter hanya mengangguk.
Petter yang merasa hangat dan mengantuk melihat ke arah meja para guru, di sana Pak Thom dan Pak Oskar tampak mendiskusikan sesuatu. sedangkan huggo dan oddi sepertinya mabuk berat.
Akhirnya pesta pun selesai tepat sekitar pukul 12 malam. untung saja besok minggu sehingga tak perlu repot-repot bangun pagi untuk pergi ke kelas.

TO BE CONTINUED
(review please)

0 komentar

Post a Comment