Petter
smith sedang memandang kagum diri nya. Ia sedang mencoba baju sekolah baru nya,
ia tampak lebih tampan dengan seragam itu. Kulitnya putih, rambutnya yang
berwarna coklat tua terpotong rapih, alis nya tebal dan matanya begitu tajam,
matanya berwarna biru terang,ia memilik lesung pipi, yang jika tersenyum
langsung membuat para wanita histeris. ia berumur 13 tahun. Petter merupakan
kelahiran inggris-jawa. Jadi tak heran jika wajah nya begitu tampan dan menjadi
idola para wanita di sekolah nya.
Petter
memandang diri nya di cermin, dia mengenakan celana panjang hitam, kemeja putih
pendek, dasi berwarna hijau, rompi berwarna hitam dan jas berwarna hitam. “wow,
kau tampak gagah sekali nak mengenakan seragam itu” suara seorang wanita muncul
di balik pintu kamarnya. Petter menoleh ke arah sumber suara, ternyata pemilik
suara itu adalah ibu nya. Ibu nya sangat cantik, wajah nya lembut, ibunya lah
yang orang indonesia asli.
Ayah
petter merupakan seorang kepala polisi indonesia. Petter sedari kecil tinggal
di indonesia maka dari itu dia sudang sangat fasih berbahasa indonesia. “oh
ibu” kata petter tersenyum melihat ibunya. “ bagaimana sudah siap semua barang
bawaannya ?” ibunya memandang ke arah tempat tidur petter, di sana terletak
sebuah koper baju yang bertulis inisial namanya yaitu “PS” dengan tulisan yang
cukup besar. Di bawah namanya bertuliskan inisial “WW” yaitu singkatan dari
sekolahnya west wood.
Petter
baru pertama kali ini akan bersekolah di sekolah berasrama. Dia membayang kan
betapa indah nya dan menyenangkannya sekolah itu, ayah dan ibunya adalah alumni
sekolah itu. Ayah nya selalu bercerita tentang salah satu club yang ada di
sekolah itu, yaitu club detective. Setiap ingat akan club itu hati petter
berdetak makin kencang karena ia begitu bersemangat untuk bisa masuk ke club
itu.
“bu,
aku sudah tak sabar untuk sampai ke sekolah” kata petter sambil memeluk ibu
nya. “west wood adalah sekolah yang bagus, jadi berusahalah menyumbangkan
prestasi mu untuk sekolah itu sebagai imbalannya” kata ibunya sambil tersenyum.
Petter mengangguk mantap. “ya sudah bawa
barang-barang mu ke bawah, ayah dan ibu akan mengantarkan mu ke stasiun.” Kata
ibu nya. “ah stasiun ? jadi ke sekolah harus naik kereta ?” petter agak kaget.
Yang ia bayang kan ia menuju ke sekolah baru nya bersama teman-temannya dalam
sebuah bis, bukan berangkat sendiri-sendiri naik kereta.
“ia,
nanti kamu akan naik kereta sekolah.....” belum selesai ibunya berbicara
langsung di potong oleh petter. “wow, jadi sekolah punya kereta sendiri ? wah
pasti sangat mengasikkan” kata petter senang, ibunya hanya tersenyum sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak semata wayang nya. “Ayo
cepat sedikit, kereta mu akan berangkat jam 10 . Dua jam lagi. Kamu pasti tak
ingin tertinggal keretamu di awal kamu masuk kan ?” Kata ibunya.
Petter
membawa barang-barang nya turun dan membawanya menuju mobilnya. “hey anak ayah.
Bagaimana ? sudah siap ?” katanya tersenyum sambil membantu petter memasukkan
kopernya ke bagasi. Di bagasi ternyata ada sebuah sepeda lipat. “lho yah ?
untuk apa sepeda ini ?” tanya petter.
“sepeda
itu pasti sangat kau butuhkan setibanya kau di sana” kata ayah nya.
“di
izinkan membawa sepeda yah ?”
“tentu
!” kata ayah nya tersenyum dan masuk ke dalam mobil. Hati petter girang bukan
main. ia semakin penasaran dengan sekolah baru nya itu. Di sepanjang perjalanan
ia selalu bertanya-tanya kepada ayah nya tentang sekolah itu. Ayah nya
bercerita begitu banyak.
Sesampainya
di stasiun ia langsung menuju ke peron 9. “aku akan segera kembali, aku pasti
sangat merindukan kalian” kata petter kepada ayah dan ibunya. “jaga dirimu
baik-baik nak, jangan nakal di sana. Semoga menyenangkan” kata ayah nya, ibu
nya tak sanggup berkata-kata karena ia sedang berusaha membendung air matanya
yang akan keluar. Ia tak mungkin menangisi kepergian anak nya di depan anaknya
sendiri, ia tak mau anak nya menjadi ikut sedih.
“baik
aku berangkat dulu..daahh” petter melambaikan tangannya ke arah ibunya. Ia
segera masuk ke gerbong kereta api. Ternyata nyaris semua gerbong sudah penuh
terisi. Sampailah ia di gerbong yang paling ujung. Tak ada orang sama sekali di
sana. Ia meletakkan koper nya. Dan duduk di dekat jendela agar bisa melihat
ayah dan ibunya.
Tak
lama kemudian kereta api nya pun mulai bergerak. Ia masih bisa melihat ayah dan
ibu nya melambaikan tangan nya. Petter sudah tdak bisa melihat lagi ayah dan
ibu nya ketika kereta nya berbelok.
Rumah-rumah,
sawah, dan lapangan luas terhampar di balik kaca jendela petter. Ia sangat
bergairah sekali, sudah tak sabar sampai ke sekolah. “ah mungkin 1-2 jam lagi
sampai, aku lupa bertanya tadi” fikirnya dalam hati.
Tiba-tiba
pintu kompertamennya terbuka. seorang anak laki-laki berambut hitam, berkulit
coklat masuk.
“anu..maaf,
boleh kah saya duduk di sini ? sudah tak ada tempat yang kosong lagi” tanya nya
gugup. “oh, silahkan” petter menyilahkan anak itu untuk masuk ke
kompertamennya. Anak laki-laki itu duduk di depannya setelah meletakkan koper
nya. “nama ku joe, joshua sandy.”kata nya sambil mengulurkan tangannya untuk
bersalaman, petter langsung menyambut tangan anak itu. “nama ku petter, petter
smith” joe tampak kaget dengan nama itu, dia langsung melepaskan tangannya dan
merasa kikuk.
“ada
apa ?” tanya petter yang menyadari perubahan wajah joe. “apa kau anak dari pak
smith ?” joe berhati-hati sekali.
“ia,
ada apa ?”
“pantas
saja, tadi aku melihat nya di luar, aku tak menyangka kau anak nya, aku sangat
kagum dengannya, beliau hampir memecahkan seluruh masalah-masalah besar di
negeri ini dengan sukses. Bahkan FBI sudah melirik nya” joe begitu bersemangat.
“ah ? ayah ku tak sehebat itu” kata petter
dengan suara sebiasa mungkn berusaha menyembunyikan rasa bangga kepada
ayahnya.
“ah
?oh iya apa kau mau masuk ke club detective ?” tanya joe. “ah tak usah di
tanya, kau pasti mau dan pasti masuk juga” katanya menambahkan sebelum petter
sempat menjawabnya. “iya aku tertarik, tetapi aku tak yakin bisa masuk, kau
sendiri bagai mana ?” tanya petter.
“aku
? aku sudah pasti ingin sekali, tetapi rasa nya tak mungkin aku bisa msuk ke
club itu” wajah joe berubah menjadi
murung. Di saat perbincangan mereka sedang asyik ada 2 orang yang menggeser
kompertamen itu. Ternyata 2 orang anak laki-laki. Wajah mereka begitu mirip.
“hey kau joe, kemana saja ? aku mencari mu kemana-mana... dan... hay nama ku
jordan sandy,....” “dan aku... jerry sandy” kata ke dua anak laki-laki itu.
Mereka pun mengulurkan tangan nya ke arah petter.
“hay,
aku petter.. petter smith” katanya tersenyum senang. “wow, jadi kau anak dari
pak smith ? senang berkenalan dengan mu. Kami kakak joe” katanya riang. “ya
sudah. Karena kami sudah menemukan kau joe, kami akan kembali ke tempat
nickolas, dia mempunyai ‘barang yang bagus’” kata si kembar ke adiknya itu.
“iya.. aku akan baik-baik saja bersama petter” kata joe.
“apa
kah semua keluarga mu polisi ?” celetuk joe. “hmm seperti nya. hampir keluarga
ayah semua nya polisi”
“kalau
begitu kau pasti sudah benar-benar dekat dengan dunia itu” katanya.
“kalian
3 bersaudara ? pasti menyenangkan ?” petter mengubah alur perbincangan mereka.
“terkadang
sih, aku sering di jadikan objek percobaan bagi ke dua kakak ku, ke dua kakak
ku itu jahil nya ... tapi seperti nya walaupun mereka jahil tetap di sukai oleh
semua orang”
“ia,
aku pun sangat menyukai mereka walaupun baru kali ini aku bertemu dengan nya.
Apakah mereka anggota club detective ?”
“tidak,
sudah hampir 5 tahun tak ada yang terpilih menjadi anggota detective”
“haa
?? wah seperti nya kecil sekali kemungkinan untuk aku bisa masuk” petter tampak
lesu mendengar kabar itu.
“ah
kalau kamu pasti masuk, aku yang tak mungkin” joe lebih murung lagi di
bandingkan petter. Lama di antara mereka tak ada yang berbicara. Petter memikir
kan tentang club detective itu, seperti nya hanya impian nya saja. Lama petter
berfikir, perut nya sudah lapar, ia tak sempat sarapan tadi pagi. Joe hanya
memandang pemandangan di balik kaca jendelanya dengan tatapan yang kosong.
“si
kembar kelas berapa ?”
“kelas
3”
Petter
melihat arloji nya. Sudah menandakan jam makan siang. “ehm joe, lapar tidak ?” tanya
petter . “ iya, aku dari tadi diam menahan lapar” katanya. “ apa kah di sini
ada yang berjualan ?” tanya petter.
“ntah
lah. Tapi lebih baik kita di sini saja” saran joe.
Mereka
pun mengobrol lagi tentang kemungkinan kemungkinan untuk bisa masuk ke club
itu. Tak lama kemudian terdengar suara orang menggeser koompertamen mereka.
Seseorang sepertinya bukan murid masuk. “ini makan siang kalian” katany dengan
suara yang lembut sambil menyerahkan sebuah kotak nasi dan sebotol minuman.
“jadi kami mendapat makan siang ?” cletuk joe. “sudah pasti, kami tak akan
membiarkan kalian kelaparan.” Katanya dengan senyum yang lembut. “oh
terimakasih” ucap petter dan joe bersamaan.
Sementara
mereka asik mengobrol dan memakan makanan mereka, kereta mereka sudah
meninggalkan jakarta. Sekarang mereka melewati sawah penuh sapi dan kambing.
Selama beberapa waktu mereka diam, memandang sawah yang terhampar luas di balik
kaca jendela.
Mereka
terus mengobrol, tak terasa sudah 8 jam mereka berada di kereta api. Daerah
pedesaan yang melayang melewati mereka berangsur-angsur berubah, sawah di kanan
kri mereka berubah menjadi hutan, sungai berkelok-kelok dan bukit-bukit tampak
hijau dan gelap.
“Kita
main tebak case yuk ?”
“hah
? permainan apa itu ?” tanya petter yang tampak asing dengan permainan itu.
“jadi
salah satu dari kita memberi sebuah kasus yang di sebut case meker, seperti
kasuh pembunuhan, penculikan dll, nanti salah satu dari kita yang memecahka
nya. Bagai mana ?”
“oke,
aku menjadi case maker ya ?” kata petter, ia langsung mengambil buku dan pena
dari ransel nya.”
Joe
membaca case yang sudah di buat petter. Case itu seperti ini
Intan dan jodi adalah sepasang
kekasih, suatu hari mereka bertengkar hebat dan ada seorang saksi bernama
jordan yang melihat pertengkaran itu. Karena jodi terlalu lelah ber adu mulut
dengan intan, ia pun duduk dan tertidur di pagar tembok lantai 4
Itu sangat berbahaya sekali tetapi
intan yang memang sedang kesal dengan jodi membiarkannya. Jordan yang melihat
jodi langsung menyadari bahwa jodi dalam keadaan bahaya, ia pun berteriak “jodi
awas jatuh”. Jodi pun terbangun dan langsung jatuh tanpa berkata apa-apa.
Pertanyaan :
1. Itu merupakan kecelakaan atau
pembunuhan ?
2. Sertakan analisis mu.
3. Kalau itu pembunuhan, siapa yang
membunuh ?
“ah ? ini pertanyaan
nya ? hmmmm....” joe tampak berfikir keras tentang case itu. “ah... ini pasti
pembunuhan, yang membunuh nya adalah........”
Terdengar
ketukan di kompertamen mereka, tak lama kemudian masuk seorang anak perempuan,
anak itu berambut gelap dan ikal, ke dua gigi depannya besar-besar seperti gigi
kelinci. “oh maaf, aku salah masuk kompertamen”
katanya dengan suara yang sok bijaksana.
“sedang apa kau ? memecahkan kasus ?” tanya
anak itu dengan sok. Anak itu langsung masuk dan duduk di sebelah petter. “coba
aku dengar analisis mu” tantangnya.
Joe
dengan kesal langsung melanjutkan kembali kata-katanya yang sempat terpotong
oleh anak tadi. “ini adalah sebuah kasus pembunuhan yang tidak langsung,
pembunuhnya adalah... intan,pacarnya. Sebelumnya mungkin ia tahu kebiasaan jodi
yang sering duduk di pagar tembok, sehingga ia memasukkan obat tidur di minuman
jodi, nah maka dari itu ia tidak melakukan apa-apa ketika jodi tidur di sana”
jawab joe dengan tampang yang begitu bangga.
“jawaban
mu salah total” kata anak perempuan itu. “pembunuh yang benar adalah jordan,
logikanya, kalau jordan tidak berteriak sudah pasti jodi tidak akan jatuh” kata
anak itu dengan suara yang sok bijak. “benar bukan ?” tanya nya kepada petter.
Petter hanya menganggukan kepalanya dengan sedikit kikuk. “pasti dia bisa masuk
ke club detective” fikir petter.
“baiklah,
aku akan kembali ke kompertamen ku, oh iya nama ku rebecca mountana, dan kalian
?” dia menyodorkan tangannya, awalnya petter enggan untuk menyambut tangan
gadis itu, tapi demi ke sopanan ia pun menanggapinya. “nama ku petter, petter
smith..” wajah gadis itu berubah “waw, anak pak smith, senang berkenalan dengan
mu.. dan kamu ?” tanya nya kepada joe. “joe, joeshua sandy”.
“oh,
sebaiknya kalian bersiap-siap, karena sebentar lagi kita akan sampai, hmm
kalian ingin tinggal di asrama mana ? aku sih ingin sekali di asrama andromeda.
Asrama andromeda berhalaman langsung dengan laut yang indah, dan setiap sore
kita bisa melihat sunset dari asrama kita. Tapi asrama supernova juga tak apa,
pemandangannya pegunungan. Dan kita bisa lihat sunrise dari sana.” Katanya
sambil pergi dan menutup kompertamen.
“memang
berpengaruh dengan pelajaran kita, kalau kita di letakkan di suatu asrama ?”
tanya petter. “tidak, itu hanya tempat kita berkumpul, si kembar ada di asrama
andromeda” katanya.
“memang
ada berapa asrama ?”
“ada
empat, asrama supernova, asrama andromeda, asrama comet dan asrama black eye.”
Jelas joe. “setiap asrama punya ciri khas sendiri, asrama supernova berdasi
merah dengan garis emas , asrama andromeda berdasi hijau bergaris perak, asrama
comet berwarna hitam dengan garis-garis emas, asrama black eye biru bergaris
perak. Nama-nama asrama itu hanya turun temurun dari penghuni nya. Dan tampak
nya kepala sekolah dan pihak guru menyetujui nya. Tapi demi apapun aku tak
ingin satu asrama dengan anak tadi”
TO BE CONTINUED
(review please)

0 komentar
Post a Comment