Bell
pelajaran pun berbunyi,banyak anak mengeluh karena waktu terasa begitu cepat.
Padahal dulu anak-anak merasa pelajaran seni adalah pelajaran yang paling
lambat dan membosankan. “eh sumpah tu guru baru manis bangettt, kalo gurunya
dia sih gue betah pelajaran seni sampe seharian juga” dinda tersenyum lebar.
Cha-cha tidak memperhatikannya, cha-cha hanya terus berjalan ke arah kantin
karna jujur saja cacing-cacing di perut nya sudah mulai menuntut. “iya cakep
banget. Eh Mr. Lee kan orang yang kamu tabrak tadi pagi itu kan cha ?” kata dea
sambil mengingat- ingat. “ya” jawab cha-cha sedanya.
“hay semua” tiba-tiba muncul seorang pria, berbadan tegap,
bermata bulat dan berbulu mata sangaat lentik,pemilik suara tersebut adalah
dimas, pacar karen. “hay” kata mereka berbarengan. “mau pada kemana ?” tanya
nya. “hello ? di jam istirahat gini kira-kira kami mau kemana ? nggak mungkin
kan ke perpustakaan kami nggak serajin itu kali” kata cha-cha sambil terus
berjalan tidak memperhatikan mereka. “cha-cha makin galak aja nih, nggak laku
lho ntar” katanya sambil terkekeh. “bodo” jawab cha-cha ketus dan membuat
mereka semua tertawa.
Sepanjang
perjalanan ke kantin mereka ber empat hanya membincangkan guru baru mereka.
Dari perbincangan mereka sepertinya mereka sangat mengagumi guru baru tersebut.
“iya ya, udah cakep jago main alat musik, suaranya juga bagus.” Cha-cha
mendengar dengan samar suara dea yang sedang memuji guru baru tersebut.
“wah,aku dapet saingan nih” kata dimas dengan lagak sok keren dan berhasil
mendapat hadiah sorakan dari dinda,dea, dan karen. Cha-cha hanya terus berjalan
mengacuhkan mereka, benar-benar bosan dengan perbincangan mereka yang hanya
membahas mr. Lee. “eh cha kok lo diem aja sih ?”dinda bertanya , menyadari
cha-cha sama sekali tidak ambil bagian dalam obrolan ini. “nggak pa-pa,bosen
aja dari tadi kalian ngebahas itu-itu mulu.”cha-cha berbalik ke arah mereka.
“emang lo nggak tertarik sama Mr. Lee ?” dinda bertanya dan langsung
memposisikan dirinya tepat di depan cha-cha. “sama sekali” kata cha-cha dan
langsung terus berjalan. “aneh” cha-cha sedikit mendengar gumaman dinda. Dan
tiba-tiba sajacha-cha tidak lagi mendengar suara dinda, dea, karen dan dimas.
“ada apa gerangan ?”fikir cha-cha. Dan ketika cha-cha berbalik, ternyata dinda,
dea, karin, bahkan dimas pun diam terpaku melihat seseorang di depannya, yang
tak lain dan tak bukan adalah Mr. Lee.
“ngapain ni
orang disini ?” batin cha-cha sambil seolah-olah mengacuhkannya. “hai,semua..
hai natacha” ternyata dia mencari cha-cha, “apa dia mau menghukum ku karna tadi
di kelas tidak memperhatikan pelajarannya ?”fikirnya. “hmmm saya boleh ikut
kalian ke kantin ? saya masih bingung disini, dan guru-guru lainnya seperinya
sedang sibuk. Jadi bolehkan saya bergabung dengan kalian?” tanyanya sambil
terus tersenyum manis. “oh pantes aja mereka semua langsung diam”gerutu cha-cha
dalam hati. “wah, kenapa Mr mau bareng kami ?” tanya dinda dengan wajah yang
berseri-seri “karna, sedengar saya cha-cha juga orang singapore kan dulunya ?
takutnya ada istilah-istilah yang saya tidak tau,jadi kan bisa bertanya. Apa
kalian keberatan ?” katanya sambil tersenyum tapi agak sedikit memelas. Dea,
dinda, karen, dan dimas langsung mengiyakan dia untuk bergabung.
Terlihat wajah
bangga dea, dinda, karen , dan dimas saat mereka berjalan bersama Mr Lee. Ntah
apa yang mereka banggakan, mungkin karena semua orang langsung menatap kagum
rombongan mereka ketika mereka melintas. Cha-cha masih berfikir sepertinya
penah bertemu dengan orang ini sebelumnya tapi ntah dimana cha-cha lupa. “ Mr
harus coba masakan mbak lis, enak lho nasi uduk nya” dimas berkata dengan
hebohnya. Mbak lis adalah salah satu ibu kantin di sekolah mereka, ya memang,
kantinnya cukup ramai, lebih ramai dari kantin-kantin yang lain yang berada di
sekolah mereka karena masakanya yang memang enak. “ nasi uduk ? oke” kata Mr
lee tersenyum tipis. “ kenapa Mr ? Mr nggak tau nasi uduk ? nasi uduk itu... ya
nasi gurih, dengan lauk kering tempe, mie, sambal merah,sedikit suiran daging
ayam dan kerupuk, bisa di tambah telur kalau mau” dimas menjelaskan, Mr lee
hanya tersenyum. “mas, di singapura juga ada nasi uduk kali” kata cha-cha
tertawa. “ya maaf, kirain cuman ada disini nasi uduk” katanya malu. “jangan kan
nasi uduk, nasi padang, pecel lele, juga ada di singapura” kata cha-cha
menambahkan. “yah tau gitu kan gue nggak usah cape-cape jelasin, hahaha”
katanya dan di sambut kekehan yang lain. Untung saja di kantin sepi jadi
cha-cha bisa makan dengan tenang, karna cha-cha takut jika ke kantin bersama
orang ini bisa ribet karna di serbu fans-fansnya. Walaupun dia baru beberapa
jam menjejakkan kaki nya di sekolah ini, tetapi fansnya sudah cukup banyak.
Obrolan pun tak henti-hentinya terdengar, seperti nya hanya memerlukan beberapa
detik untuk membuat mereka akrab denga mr lee. Tetapi cha-cha tidak bergabung
mengobrol dengan mereka. Cha-cha hanya fokus dengan makanan nya. “rumah kalian
dimana ?” terdengar suara Mr. Lee di dalam percakapan . Dan ketiga sahabatnya
di tambah dimas langsung menjawabnya. Cha-cha tidak mempedulikan mereka, yang
ada di fikiran nya hanya satu “lapar” . “lho kok dari tadi kamu diam saja cha ?
kamu tidak suka saya disini ?” tiba-tiba mr. lee bertanya kepada cha-cha, dan
mau tak mau cha-cha pun menoleh ke arahnya dan mencoba menjawabnya “ eh ? bukan
begitu. Aku lagi kelaperan. Jadi nggak begitu merhatiin obrolan kalian” cha-cha
menjawab dengan jujur dan agak kikuk. “ oh gitu, rumah kamu di mana cha ?” “di
perum. Permai.” Cha-cha menjawab singkat dan tetap berkonsentrasi dengan
makanannya. “ tetangga berarti kita ya ?” dia masih tersenyum manis “ehm ?
mungkin”. “saya juga tinggal di perum. Permai” katanya, kali ini iya tidak
tersenyum melainkan fokus dengan makanannya.
Bell masuk
pun berbunyi, mereka kembali ke kelas, dan memulai pelajaran yang super garing
dan krik. Cha-cha terkadang merasa jenuh dengan sekolah ini, tiada hari tanpa
tugas dan tugas. Hampir semua mata pelajaran ada tugasnya. Guru-guru
berpendapat karna mereka sebentar lagi ujian jadi lebih baik di beri beban
tugas-tugas untuk latihan menjelang ujian. Tetapi menurut mereka sih guru
membebankan tugas sama saja membunuh mereka secara perlahan, bikin pusing.
Cha-cha tidak menikmati pelajaran-pelajaran selanjutnya. Cha-cha hanya menyibukkan
diri menulis novel nya. Akhirnya bell yang menunjukkan waktu pulang pun
berbunyi. Mereka semua langsung berhamburan keluar tanpa perlu berlama-lama di
kelas. Kali ini cha-cha pulang sendirian, karna rumah nya dengan dinda dan
karen tidak searah, sedangkan dea harus mengikuti bimbingan belajar di sekolah.
Cha-cha menunggu angkot di depan gerbang sekolah, tiba-tiba saja ada mobil
pribadi yang menurut nya cukup mewah, berhenti. Kaca mobil itu terbuka secara
perlahan. “mau bareng cha ?” terdengar suara yang sedikit familiar berasal dari
dalam mobil tersebut, dan ketika orang tersebut menampakkan kepalanya ternyata
dia adalah Mr. Lee. “oh, boleh” kta cha-cha menjawab seadanya, saat cha-cha
akan membuka pintu mobilnya terdengar suara triakan di belakang. “Mr lee..”
ternyata yang berteriak adalah bu ria. Beliau adalah wali kelas cha-cha.
Umurnya sudah lumayan tua, dan kabarnnya sampai sekarang beliau belum menikah,
asataga ! beliau pun terkenal sangat galak terutama kepada para murid
perempuan. Beliau hanya ramah kepada murid laki-laki saja.
“kamu
ngapain disini cha ?”tanya bu ria penuh menyelidik. “seharusnya gue kali yang
tanya ngapain elo di sini” gumam cha-cha. “apa cha ?” kata bu ria semakin
mendekat. “nggak bu, saya disini mau pulang, terus di tawarin suruh bareng sama
Mr. Lee”jawab cha-cha malas. “oh gitu... Mr Lee. Saya boleh bareng ya ?”
katanya dengan suara yang sangat genit, membuat cha-cha sangat muak. Sepertinya
cha-cha sedikit melihat Mr lee mengernyitkan dahinya. “ah ? rumah ibu di mana
?”tanya mr lee yang tidak menampakkan tanda-tanda untuk keluar dari mobilnya. “
di perumahanan mawar melati” kata bu ria denga suara yang makin genit..
uueeekkk.. ingin sekali cha-cha muntah di depannya. “ah ibu, rumah ibu itu ke
arah kanan. Sedangkan rumh kami ke arah kiri. Gimana mau bareng bu ?” kata
cha-cha agak sengit. “lho ibu kan mau numpang mobil Mr Lee, bukan numpang mobil
kamu” nadanya berubah saat berbicara dengan cha-cha. Jauh berbeda pada saat ia
berbicara dengan Mr Lee. “maaf ibu, saya buru-buru harus beres-beres rumah yang
baru saya tempati.” Cha-cha rasanya ingin tertawa kuat-kuat. Tapi cha-cha hanya
menahannya sampai muka nya merah menahan tawa. Berbeda sekali dengan bu ria,
mukanya memerah karna malu. “ah kebetulan saya ada undangan pengajian di rumah
teman saya. Kebetulan rumahnya ada di sebelah rumah cha-cha.” Bu ria tidak
menyerah. “ah ?sebelah rumah cha-cha ? ibu yakin ?” Mr. Lee mengernyitkan
dahinya. “yakin sekali” katanya tersenyum puas ke arah nya. “tapi bu....” kata ku
tetapi di potong oleh lambaian tangan nya yang bertanda cha-cha harus diam.
Beliau langsung masuk ke mobil Mr. Lee tanpa meminta izin kepada pemiliknya.
Cha-cha hanya diam dan masuk ke mobil Mr. Lee. Bu ria duduk di sebelah mr. lee,
sedangkan cha-cha duduk di kursi belakang. Bu ria asyik berceloteh dan hanya di
jawab “ohhh, hmm, wow, ah ?” leh Mr. Lee. Untuk kesekian kalinya cha-cha
menahan tawa cha-cha hingga wajah nya memerah seperti kepiting rebus. Ingin
rasanya cha-cha turun dari mobil ini sekarang juga untuk tertawa
sepuas-puasnya. “naik angkot ke sekolah
cha ?” tiba-tiba Mr. Lee bertanya ke pada cha-cha .cha-cha makin ingin tertawa
melihat perubahan wajah bu ria saat Mr. Lee mengajak cha-cha bicara. “ya” kata
cha-cha menjawab berusaha agar tidak terdengar bergetar karena menahan tawa..
“bareng saya aja brangkat dan pulang sekolah nya ?” dia menawarkan , cha-cha
yang melihat wajah bu ria yang benar-benar seperti tikus masuk got langsung
tertawa terbahak-bahak. “lho kok tertawa cha ?” Mr. Lee yang sebenarnya tau
penyebab cha-cha tertawa berpura-pura bertanya yang maksudnya untuk membuat
cha-cha berhenti tertawa.
“nggak pa-pa
Mr. Eh ? nggak usah, ngrepotin Mr. nanti” cha-cha berhenti tertawa.
“kenapa
ngrepotin ? kan rumah kita searah ?”
“terserah
aja” cha-cha berani taruhan, pasti bu ria pun berharap ia juga mendapat tawaran
yang sama dari Mr. Lee . “oke, besok aku jemput jam 6.30 ya” katanya sambil
menoleh ke arah cha-cha, dan dia sekarang menggunakan kata ganti “aku” bukan
“saya” lagi. Ketika cha-cha menoleh ke kursi sebelahnya ternyata ada banyak
album foto di situ karna penasaran cha-cha pun menyakannya “hmm, bawa-bawa
album foto untuk apa Mr ? sepenting itu kah foto-foto itu ?” .”eh nggak sopan
mau tahu urusan orang seperti itu cha”bu ria berkata seolah olah ia pemilik
album foto tersebut. “kalo mau lihat, ambil aja. No problem.” Katanya
tersenyum. “tuh kan, Mr. Lee nya aja ngebolehin kok” cha-cha sangat puas hari
ini karena berhasil membuat bu ria mati kutu. Karna cha-cha penasaran cha-cha
pun mengambil album foto tersebut. Dan ketika cha-cha buka ternya di situ
banyak sekali foto nya bersama.......Mr. Lee.
-TO BE CONTINUED-
(review please)

0 komentar
Post a Comment