Wednesday, March 20, 2013

Bizzare love 3angel (part2)

 Bell pelajaran pun berbunyi,banyak anak mengeluh karena waktu terasa begitu cepat. Padahal dulu anak-anak merasa pelajaran seni adalah pelajaran yang paling lambat dan membosankan. “eh sumpah tu guru baru manis bangettt, kalo gurunya dia sih gue betah pelajaran seni sampe seharian juga” dinda tersenyum lebar. Cha-cha tidak memperhatikannya, cha-cha hanya terus berjalan ke arah kantin karna jujur saja cacing-cacing di perut nya sudah mulai menuntut. “iya cakep banget. Eh Mr. Lee kan orang yang kamu tabrak tadi pagi itu kan cha ?” kata dea sambil mengingat- ingat. “ya” jawab cha-cha sedanya.
“hay semua” tiba-tiba muncul seorang pria, berbadan tegap, bermata bulat dan berbulu mata sangaat lentik,pemilik suara tersebut adalah dimas, pacar karen. “hay” kata mereka berbarengan. “mau pada kemana ?” tanya nya. “hello ? di jam istirahat gini kira-kira kami mau kemana ? nggak mungkin kan ke perpustakaan kami nggak serajin itu kali” kata cha-cha sambil terus berjalan tidak memperhatikan mereka. “cha-cha makin galak aja nih, nggak laku lho ntar” katanya sambil terkekeh. “bodo” jawab cha-cha ketus dan membuat mereka semua tertawa.
Sepanjang perjalanan ke kantin mereka ber empat hanya membincangkan guru baru mereka. Dari perbincangan mereka sepertinya mereka sangat mengagumi guru baru tersebut. “iya ya, udah cakep jago main alat musik, suaranya juga bagus.” Cha-cha mendengar dengan samar suara dea yang sedang memuji guru baru tersebut. “wah,aku dapet saingan nih” kata dimas dengan lagak sok keren dan berhasil mendapat hadiah sorakan dari dinda,dea, dan karen. Cha-cha hanya terus berjalan mengacuhkan mereka, benar-benar bosan dengan perbincangan mereka yang hanya membahas mr. Lee. “eh cha kok lo diem aja sih ?”dinda bertanya , menyadari cha-cha sama sekali tidak ambil bagian dalam obrolan ini. “nggak pa-pa,bosen aja dari tadi kalian ngebahas itu-itu mulu.”cha-cha berbalik ke arah mereka. “emang lo nggak tertarik sama Mr. Lee ?” dinda bertanya dan langsung memposisikan dirinya tepat di depan cha-cha. “sama sekali” kata cha-cha dan langsung terus berjalan. “aneh” cha-cha sedikit mendengar gumaman dinda. Dan tiba-tiba sajacha-cha tidak lagi mendengar suara dinda, dea, karen dan dimas. “ada apa gerangan ?”fikir cha-cha. Dan ketika cha-cha berbalik, ternyata dinda, dea, karin, bahkan dimas pun diam terpaku melihat seseorang di depannya, yang tak lain dan tak bukan adalah Mr. Lee.
“ngapain ni orang disini ?” batin cha-cha sambil seolah-olah mengacuhkannya. “hai,semua.. hai natacha” ternyata dia mencari cha-cha, “apa dia mau menghukum ku karna tadi di kelas tidak memperhatikan pelajarannya ?”fikirnya. “hmmm saya boleh ikut kalian ke kantin ? saya masih bingung disini, dan guru-guru lainnya seperinya sedang sibuk. Jadi bolehkan saya bergabung dengan kalian?” tanyanya sambil terus tersenyum manis. “oh pantes aja mereka semua langsung diam”gerutu cha-cha dalam hati. “wah, kenapa Mr mau bareng kami ?” tanya dinda dengan wajah yang berseri-seri “karna, sedengar saya cha-cha juga orang singapore kan dulunya ? takutnya ada istilah-istilah yang saya tidak tau,jadi kan bisa bertanya. Apa kalian keberatan ?” katanya sambil tersenyum tapi agak sedikit memelas. Dea, dinda, karen, dan dimas langsung mengiyakan dia untuk bergabung.
Terlihat wajah bangga dea, dinda, karen , dan dimas saat mereka berjalan bersama Mr Lee. Ntah apa yang mereka banggakan, mungkin karena semua orang langsung menatap kagum rombongan mereka ketika mereka melintas. Cha-cha masih berfikir sepertinya penah bertemu dengan orang ini sebelumnya tapi ntah dimana cha-cha lupa. “ Mr harus coba masakan mbak lis, enak lho nasi uduk nya” dimas berkata dengan hebohnya. Mbak lis adalah salah satu ibu kantin di sekolah mereka, ya memang, kantinnya cukup ramai, lebih ramai dari kantin-kantin yang lain yang berada di sekolah mereka karena masakanya yang memang enak. “ nasi uduk ? oke” kata Mr lee tersenyum tipis. “ kenapa Mr ? Mr nggak tau nasi uduk ? nasi uduk itu... ya nasi gurih, dengan lauk kering tempe, mie, sambal merah,sedikit suiran daging ayam dan kerupuk, bisa di tambah telur kalau mau” dimas menjelaskan, Mr lee hanya tersenyum. “mas, di singapura juga ada nasi uduk kali” kata cha-cha tertawa. “ya maaf, kirain cuman ada disini nasi uduk” katanya malu. “jangan kan nasi uduk, nasi padang, pecel lele, juga ada di singapura” kata cha-cha menambahkan. “yah tau gitu kan gue nggak usah cape-cape jelasin, hahaha” katanya dan di sambut kekehan yang lain. Untung saja di kantin sepi jadi cha-cha bisa makan dengan tenang, karna cha-cha takut jika ke kantin bersama orang ini bisa ribet karna di serbu fans-fansnya. Walaupun dia baru beberapa jam menjejakkan kaki nya di sekolah ini, tetapi fansnya sudah cukup banyak. Obrolan pun tak henti-hentinya terdengar, seperti nya hanya memerlukan beberapa detik untuk membuat mereka akrab denga mr lee. Tetapi cha-cha tidak bergabung mengobrol dengan mereka. Cha-cha hanya fokus dengan makanan nya. “rumah kalian dimana ?” terdengar suara Mr. Lee di dalam percakapan . Dan ketiga sahabatnya di tambah dimas langsung menjawabnya. Cha-cha tidak mempedulikan mereka, yang ada di fikiran nya hanya satu “lapar” . “lho kok dari tadi kamu diam saja cha ? kamu tidak suka saya disini ?” tiba-tiba mr. lee bertanya kepada cha-cha, dan mau tak mau cha-cha pun menoleh ke arahnya dan mencoba menjawabnya “ eh ? bukan begitu. Aku lagi kelaperan. Jadi nggak begitu merhatiin obrolan kalian” cha-cha menjawab dengan jujur dan agak kikuk. “ oh gitu, rumah kamu di mana cha ?” “di perum. Permai.” Cha-cha menjawab singkat dan tetap berkonsentrasi dengan makanannya. “ tetangga berarti kita ya ?” dia masih tersenyum manis “ehm ? mungkin”. “saya juga tinggal di perum. Permai” katanya, kali ini iya tidak tersenyum melainkan fokus dengan makanannya.
Bell masuk pun berbunyi, mereka kembali ke kelas, dan memulai pelajaran yang super garing dan krik. Cha-cha terkadang merasa jenuh dengan sekolah ini, tiada hari tanpa tugas dan tugas. Hampir semua mata pelajaran ada tugasnya. Guru-guru berpendapat karna mereka sebentar lagi ujian jadi lebih baik di beri beban tugas-tugas untuk latihan menjelang ujian. Tetapi menurut mereka sih guru membebankan tugas sama saja membunuh mereka secara perlahan, bikin pusing. Cha-cha tidak menikmati pelajaran-pelajaran selanjutnya. Cha-cha hanya menyibukkan diri menulis novel nya. Akhirnya bell yang menunjukkan waktu pulang pun berbunyi. Mereka semua langsung berhamburan keluar tanpa perlu berlama-lama di kelas. Kali ini cha-cha pulang sendirian, karna rumah nya dengan dinda dan karen tidak searah, sedangkan dea harus mengikuti bimbingan belajar di sekolah. Cha-cha menunggu angkot di depan gerbang sekolah, tiba-tiba saja ada mobil pribadi yang menurut nya cukup mewah, berhenti. Kaca mobil itu terbuka secara perlahan. “mau bareng cha ?” terdengar suara yang sedikit familiar berasal dari dalam mobil tersebut, dan ketika orang tersebut menampakkan kepalanya ternyata dia adalah Mr. Lee. “oh, boleh” kta cha-cha menjawab seadanya, saat cha-cha akan membuka pintu mobilnya terdengar suara triakan di belakang. “Mr lee..” ternyata yang berteriak adalah bu ria. Beliau adalah wali kelas cha-cha. Umurnya sudah lumayan tua, dan kabarnnya sampai sekarang beliau belum menikah, asataga ! beliau pun terkenal sangat galak terutama kepada para murid perempuan. Beliau hanya ramah kepada murid laki-laki saja.
“kamu ngapain disini cha ?”tanya bu ria penuh menyelidik. “seharusnya gue kali yang tanya ngapain elo di sini” gumam cha-cha. “apa cha ?” kata bu ria semakin mendekat. “nggak bu, saya disini mau pulang, terus di tawarin suruh bareng sama Mr. Lee”jawab cha-cha malas. “oh gitu... Mr Lee. Saya boleh bareng ya ?” katanya dengan suara yang sangat genit, membuat cha-cha sangat muak. Sepertinya cha-cha sedikit melihat Mr lee mengernyitkan dahinya. “ah ? rumah ibu di mana ?”tanya mr lee yang tidak menampakkan tanda-tanda untuk keluar dari mobilnya. “ di perumahanan mawar melati” kata bu ria denga suara yang makin genit.. uueeekkk.. ingin sekali cha-cha muntah di depannya. “ah ibu, rumah ibu itu ke arah kanan. Sedangkan rumh kami ke arah kiri. Gimana mau bareng bu ?” kata cha-cha agak sengit. “lho ibu kan mau numpang mobil Mr Lee, bukan numpang mobil kamu” nadanya berubah saat berbicara dengan cha-cha. Jauh berbeda pada saat ia berbicara dengan Mr Lee. “maaf ibu, saya buru-buru harus beres-beres rumah yang baru saya tempati.” Cha-cha rasanya ingin tertawa kuat-kuat. Tapi cha-cha hanya menahannya sampai muka nya merah menahan tawa. Berbeda sekali dengan bu ria, mukanya memerah karna malu. “ah kebetulan saya ada undangan pengajian di rumah teman saya. Kebetulan rumahnya ada di sebelah rumah cha-cha.” Bu ria tidak menyerah. “ah ?sebelah rumah cha-cha ? ibu yakin ?” Mr. Lee mengernyitkan dahinya. “yakin sekali” katanya tersenyum puas ke arah nya. “tapi bu....” kata ku tetapi di potong oleh lambaian tangan nya yang bertanda cha-cha harus diam. Beliau langsung masuk ke mobil Mr. Lee tanpa meminta izin kepada pemiliknya. Cha-cha hanya diam dan masuk ke mobil Mr. Lee. Bu ria duduk di sebelah mr. lee, sedangkan cha-cha duduk di kursi belakang. Bu ria asyik berceloteh dan hanya di jawab “ohhh, hmm, wow, ah ?” leh Mr. Lee. Untuk kesekian kalinya cha-cha menahan tawa cha-cha hingga wajah nya memerah seperti kepiting rebus. Ingin rasanya cha-cha turun dari mobil ini sekarang juga untuk tertawa sepuas-puasnya.  “naik angkot ke sekolah cha ?” tiba-tiba Mr. Lee bertanya ke pada cha-cha .cha-cha makin ingin tertawa melihat perubahan wajah bu ria saat Mr. Lee mengajak cha-cha bicara. “ya” kata cha-cha menjawab berusaha agar tidak terdengar bergetar karena menahan tawa.. “bareng saya aja brangkat dan pulang sekolah nya ?” dia menawarkan , cha-cha yang melihat wajah bu ria yang benar-benar seperti tikus masuk got langsung tertawa terbahak-bahak. “lho kok tertawa cha ?” Mr. Lee yang sebenarnya tau penyebab cha-cha tertawa berpura-pura bertanya yang maksudnya untuk membuat cha-cha berhenti tertawa.
“nggak pa-pa Mr. Eh ? nggak usah, ngrepotin Mr. nanti” cha-cha berhenti tertawa.
“kenapa ngrepotin ? kan rumah kita searah ?”
“terserah aja” cha-cha berani taruhan, pasti bu ria pun berharap ia juga mendapat tawaran yang sama dari Mr. Lee . “oke, besok aku jemput jam 6.30 ya” katanya sambil menoleh ke arah cha-cha, dan dia sekarang menggunakan kata ganti “aku” bukan “saya” lagi. Ketika cha-cha menoleh ke kursi sebelahnya ternyata ada banyak album foto di situ karna penasaran cha-cha pun menyakannya “hmm, bawa-bawa album foto untuk apa Mr ? sepenting itu kah foto-foto itu ?” .”eh nggak sopan mau tahu urusan orang seperti itu cha”bu ria berkata seolah olah ia pemilik album foto tersebut. “kalo mau lihat, ambil aja. No problem.” Katanya tersenyum. “tuh kan, Mr. Lee nya aja ngebolehin kok” cha-cha sangat puas hari ini karena berhasil membuat bu ria mati kutu. Karna cha-cha penasaran cha-cha pun mengambil album foto tersebut. Dan ketika cha-cha buka ternya di situ banyak sekali foto nya bersama.......Mr. Lee.
 

-TO BE CONTINUED-
(review please)

0 komentar

Post a Comment