“ Cha, lo udah
siap pengambilan nilai pelajaran seni musik nanti ?” aku yang sedang terbuai
dengan lamunanku tersentak kaget, aku sudah hampir lupa akan tugas yang sudah
di berikan sejak seminggu yang lalu “belum,hari ini pengambilan nilai ya ?”
tanya ku kepada pemilik suara tersebut, pemilik suara tersebut adalah dea,salah
satu sahabat yang ku punya. Aku mempunyai 3 sahabat di sekolah, dea , karen ,
dan dinda. kami sudah berteman dekat sejak kami bertemu untuk pertama kalinya
pada saat penerimaan murid baru di sekolah ini. kami sangat populer di sekolah.
kami berempat di anugrahkan paras yang cantik yang di seimbangkan dengan otak
yang lumayan encer. kami pun aktif dalam berorganisasi. Natacha Pettel itulah
namaku, teman-temanku biasa memanggilku cha-cha. Sekarang kami duduk di kelas
12 . kami bersekolah di SMA Nusa Bangsa, salah satu sekolah di jakarta.
“haaa ? jadi lo
sama sekali nggak ingat tugas ini ? wah,lo tau sendiri kan pak bono galak nya
minta ampun” dea memperingatkan ku dengan bergaya seolah-olah dia adalah pak
bono. Aku sibuk memikirkan alasan yang tepat agar aku tidak di hukum karna lupa
mengerjakan tugas tersebut, aku sama sekali tidak bisa memainkan alat musik,
bahkan memukul-mukul meja pun tetap saja suara yang terdengar cukup untuk
membuat orang yang sedang sakit gigi bisa kumat.
****
Di pagi yang
secerah ini, biasanya ku habiskan waktu ku dengan bertumpuk-tumpuk buku di
hadapan ku, aku menghabiskan banyak waktu ku untuk belajar agar segera
menyelesaikan kuliahku. Terbukti aku hanya membutuhkan 3 tahun ku belajar untuk
bisa segera skripsi. Untuk menyelesaikan skripsi ku,aku harus mengadakan
penelitian ke salah satu sekolah di indonesia. Ya memang,aku bukan orang
indonesia asli,aku tinggal di singapura ,tapi aku pernah menghabiskan waktu
kecilku di negara ini walaupun tak lama. Dan saat ini aku tak menyangka bisa
kembali ke negara ini, di mana tersimpan semua kenangan-kengan indah ku
bersamanya....
Aku terduduk di lobi menunggu kepala sekolah datang
untuk meminta izin agar aku bisa mengadakan penelitian di sekolah ini “apa
terlalu pagi ?” grutu ku sambil melihat jam tangan ku yang sudah menunjukkan
pukul 6.30 tetapi tidak ada tanda-tanda sekolah ini berpenghuni.
****
“aduh” aku
terjatuh, karena terbuai oleh lamunanku sehingga aku tidak menyadari telah
menabrak kursi yang ternyata di kursi itu ada penghuni nya sampai-sampai
penghuninya terjatuh. “aduh maaf mas” aku membantunya untuk berdiri.
“yes, no problem. Lain kali hati-hati ya” kata pria tersebut sambil memegang
siku nya yang sedikit berdarah. “sepertinya aku pernah liat dia sebelumnya” aku
membatin dan terpesona melihat pria tersebut.pria tersebut sangat tampan,pria
dengan wajah oriental dengan kulitnya yang putih,bersorot mata teduh yang
menunjukkan keramahannya, rambutnya yang lurus berwarna coklat terpotong
rapi,yang sangat cocok dengan penampilannya. “hello ? ada apa ?” kata pria
tersebut sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan ku, aku pun langsung
tersadar dari lamunanku “oh tidak. maaf, aku tadi tidak memperhatikan jalanku,
sekali lagi maaf” kata ku sambil tetap memandangnya. “oh iya no problem” dia
tersenyum dan langsung masuk ke dalam. Ternyata dia sedang menunggu kepala
sekolah, terbukti ketika kepala sekolah datang dia langsung berjalan mengikuti
nya. “oke sampai berjumpa lagi” katanya sebelum berlalu dengan senyum yang selalui
menghiasi wajahnya.
****
Wajah itu ?
sepertinya bukan wajah yang asing, seperti pernah melihatnya. Tapi dimana ? aku
benar-benar tidak bisa mengingatnya, “ah mungkin perasaan ku aja” batinku, aku
dan dea segera melanjutkan perjalanan ku ke kelas.
****
“cakeep banget itu cowo cha, kok dia sepertinya bukan orang
indonesia ya ?” cha cha pura-pura tidak mendengarnya, dia hanya terus berjalan
kekelasnya dengan fikiran yang sangat penat. “Orang apapun dia aku nggak
peduli,lagian buat apa mikirin orang itu ?” grutunya dalam hati sambil tetap
berlalu.
“cha ? kok melamun sih ? tadi kenapa lo nggak tanya
namanya ? umur tu orang sepertinya nggak jauh beda dengan kita, mungkin selisih
2-3th” dea tampak mengira-ngira umur orang itu sambil menggerak-gerakkan
jari-jari tangannya yang lentik bak seorang dirigen,cha-cha sama sekali tidak
mempedulikannya dan sepertinya dea pun tidak merasa risih dengan
jawaban-jawaban cha cha yang hanya menjawab “emm,ooohh,iya, mungkin”
Terdengar bell
tanda masuk berbunyi,cha cha pun sudah melupakan kejadian tadi pagi, cha cha
dan dea sudah bergabung bersama karen dan dinda. Mereka pun langsung bergegas
masuk kelas. Cha-cha terlihat Agak sedikit was-was karna sekarang sudah memasuki
jam seni musik, wajahnya yang cantik yang biasanya selalu dihiasi oleh
senyumnya yang bisa memikat seluruh pria yang iya temui kini bibirnya hanya
sibuk mengucapkan kata-kata berharap pak bono tidak masuk. harapan cha-cha
supaya pak bono tidak masuk kelas sirna sudah karena tampak pak bono sudah
berada di pintu masuk kelas, tetapi beliau tidak sendiri melainkan dengan
seseorang dan ternyata orang tersebut adalah pria yang ditabrak cha cha tadi
pagi. “dia kan orang yang tadi pagi ? kok sepertinya dia tidak asing ya,
siapa ya ?” kata nya dalam hati.
“selamat pagi
anak-anak” pak bono mengucapkan salam dengan senyum yang kalau menurut cha cha
bisa membuat anak-anak TK menagis histeris. “selamat pagi pak” jawab anak-anak
dengan semangat, tidak seperti biasanya yang setiap pelajaran pak bono
anak-anak lemas seperti sudah tidak makan berminggu-minggu. anak-anak seperti
itu mungkin karena ada orang tersebut. Yang seketika membuat kelas ramai dengan
bisik-bisik yang bisa di bilang bisikan mereka tidak bisa di kaategorikan
bisikan, karna jelas sekali cha-cha bisa mendengar dengan jelas suara iren yang
tempat duduk nya 4 bangku di belakang nya berkata “orang itu cakep banget”.
“ssstttt jangan
berisik anak-anak” seketika kelas menjadi sunyi dan senyap, hanya ada suara
kipas angin yang mendengung “ngggggg” . “oke. Tahun ini kita kedatangan tamu.
ini guru baru kalian, beliau di tugaskan kesini dalam rangka pengabdian yang
akan di jelaskan langsung oleh beliau. Silahkan pak perkenalkan diri anda” kata
pak bono mempersilahkan pria tersebut. “iya trimakasih pak bono. Selamat pagi
semua” kata pria tersebut dengan senyum yang membuat anak 1 kelas terpukau
karna ketampanannya, bahkan anak laki-laki pun ikut bengong melihatnya.
“well,
my name’s Lee Ser Kian. Kalian bisa memanggil saya cukup lee atau bisa juga
kian,terserah kalian saja. Saya seorang mahasiswa dari salah satu universitas
di singapore, yaitu national university of singapore.saya kebetulan mendapat
tugas penelitian untuk pelajaran seni musik yang kebetulan kebetulan saya ditugaskan di indonesia.
Saya mengambil sampel yaitu sekolah ini . mungkin ada yang ingin di tanyakan
?”pria itu tersenyum ramah kepada seluruh penghuni kelas. Pak bono berbisik
kepada orang tersebut dan kemudian keluar kelas.
Dalam waktu
beberapa menit saja kelas ramai penuh pertanyaan untuk guru baru tersebut.
Pertanyaan yang macam-macam tapi ya seputar informasi pribadinya, ada yang
bertanya umur,tempat dan tanggal lahir, hobby, singgle atau tidak, tinggal
dimana dll. Dan ternyata Mr. lee berumur 19th, tidak jauh berbeda dengan umur
mereka.
Setelah
setengah jam berlalu dan sudah tidak ada yang bertanya,pelajaran pun di mulai.
Mr. Lee memulai dengan pelajaran piano. Karena banyak yang meminta Mr. Lee
untuk bermain piano akhirnya Mr. Lee pun mengawali pelajaran dengan dia bermain
piano. Permainan nya sungguh menakjubkan, untuk sekian kali anak kelas
terbengong-bengong melihat nya. Tetapi tampak cha-cha, satu-satunya murid yang
tidak memperhatikan mr.lee karena ia sama sekali tidak berbakat dalam seni
musik, tetapi ia sangat berbakat dalam dunia sastra. Cha-cha adalah penulis
novel remaja yang berprestasi. Cha-cha sudah banyak menyumbangkan piala untuk
sekolah dari hobby nya ini. Karna begitu bosan ia pun menyibukkan diri dengan
mencorat coret bukunya dengan beberapa rangkaian kata yang membentuk sebuah
paragraf.
Tiba-tiba saja ada yang mengambil buku nya “hey” katanya
kesal, tetapi cha-cha langsung diam terpaku karna yang mengambil buku nya adalah
Mr. Lee, guru baru tersebut. Mungkin
karna cha-cha terlalu sibuk dengan tulisannya sehingga ia tidak menyadari bahwa
Mr. Lee sudah selesai memainkan piano nya. “sedang menulis apa ?” Mr.Lee
berkata sambil melihat-lihat tulisan-tulisan chacha. “oh bukan apa-apa”
jawabnya agak bingung. “hmmm. Natacha lain kali perhatikan kalau guru sedang
menjelaskan atau memberi contoh” kata nya sambil mengembalikan buku cha-cha .
“lho kok dia tau namaku ya ? aku kan nggak memasang tanda pengenal di bajuku.
Mungkin tadi dia sempat mengabsen ketika aku sibuk mencoret- coret buku ini”
batinnya.
-TO BE CONTINUED-
(review please)
(review please)

0 komentar
Post a Comment