Tuesday, March 19, 2013

Dia (part1)

“julio kemari sebentar” ibu memanggilku dari ruang tamu yang terletak di lantai satu tepat di bawah kamarku. aku hanya diam, malas sekali rasanya untuk beranjak dari tidur siang ku yang ‘langka’ ini. “tok..tok.. julio..” ternyata ibu sudah ada di depan kamarku. “masuk saja bu, tidak di kunci” ku tutup kepalaku dengan bantal. “julio.. bangun, yuk kita sambut tamu yang ada di luar” kata ibu sambil mengambil bantal yang menutupi kepalaku. “tamu ?” tanya ku bingung, “iya, namanya dera, dia anak dari teman ayahmu di jakarta, dan mulai sekarang dia akan tinggal di rumah kita” kata ibu sambil tersenyum, aku sedang memproses kata-kata ibu barusan. “sudah tidak usah banyak berfikir, temui dulu yuk, tak enak meninggalkan tamu sendirian terlalu lama.” dengan enggan aku berdiri dan berjalan di belakang ibu ku. ‘dera ? siapa sih dia ? untuk apa dia tinggal disini, ini kan desa dan dia itu orang kota lho’ batinku.
Ternyata di ruang tamu duduk seorang gadis yang sangat cantik, kulitnya putih, rambutnya hitam dan panjang di biarkannya terurai, matanya bulat indah dan bulu matanya begitu lentik. gadis itu begitu asing bagi ku. dia berdiri dan segera mengulurkan tangannya, aku malas sekali membalas uluran tangannnya, tapi ketika melihat ibu melotot kepadaku aku pun dengan enggan membalas uluran tangannya. ” dera ” katanya tersenyum. “julio” jawabku singkat. “sepertinya kita seumuran ya” katanya dengan suara yang begitu bersemangat. aku hanya mengacuhkannya. “julio, bersikaplah yang baik” kata ibu menegurku. “oh tidak masalah tante” kata dera tersenyum. “julio, dia akan satu sekolah dengan mu, bahkan dia akan satu kelas dengan mu, jadi tolong jaga dia di sekolah” ibu menjelaskan panjang lebar, aku hanya diam bertopang dagu, tak ada gunanya juga bilang ‘aku tak mau’ karna ibu pasti akan memaksaku walaupun sebenarnya aku sama sekali tak menginginkannya. “julio kamu mendengarkan ibu bicara kan ?” aku tersadar dari lamunanku. “iya bu” jawabku malas. “sekarang antar dera melihat-lihat sekolah mu” kata ibu yang memuatku langsung protes. “haa ? besok dia akan melihatnya sendiri bu” kata ku protes, aku tak ingin teman-temanku melihat aku sedang berduaan dengan wanita asing, aku takut akan tersebar gosip yang tidak-tidak di sekolah, bagaimanapun aku pria yang cukup populer di sekolah. “aku ingin sekali melihat sekolah baru ku” kata dera dengan semangat nya. “nah cepat antarkan dera” kata ibu, aku ingin sekali menolak nya tapi apa boleh buat kalau sudah ibu yang menyuruh aku tak bisa apa-apa lagi.
Aku membawa dera ke garasi rumah untuk mengambil sepeda ku, “hanya ada satu sepeda” kataku seadanya. ” leih baik kau pergi sendiri, lurus saja dari sini, hanya 30 menit. tapi kalau mau berjalan juga tak apa,tapi membutuhkan waktu sampai satu jam” kata ku menjelaskan. “aku tak bisa mengendarai sepeda ju” katanya polos, tiba-tiba saja dia duduk di kursi belakang sepedaku,” kau menggoncengku saja tak apa” katany bersemangat. ” kau tidak apa-apa, aku yang kenapa-kenapa. bagaimana kalau sampai teman-teman sekolah ku melihat ku membonceng seorang wanita asing ?ah aku tak mau.” kata ku.
“ayo cepat keburu sore” dera menarik ku untuk duduk di sepeda. ‘huft baiklah’ grutu ku dalam hati. sepanjang perjalanan dera tak henti-hentinya berbicara panjang lebar. ” kamu bisa diam tidak sih ! kamu itu terlalu berisik” bentakku, tapi tampaknya ia tidak tersinggung sama sekali. ” aku kan hanya terpesona dengan keindahan alam di desa ini.” katanya dengan nada yang tetap bersemangat. “terserah kau” kata ku mengacuhkannya.
“hey ju, pacar baru ya ?” kata seseorang yang baru pulang dari sawah.”bukaaann” kataku sebal. “hay paman, mulai hari ini aku akan tinggal di rumah julio” dera berteriak sambil melambaikan tangan nya bersemangat. “hei, jangan berkata macam-macam” bentakku. “aku tidak berkata macam-macam. Itu fakta kan ?” kata nya polos sekali. Aku bersepeda mengacuhkan ocehan-ocehan dera yang benar-benar mengganggu ku. ‘mati’ batinku. Aku melihat sesil berdiri di depan sebuah toko. Aku menghentikan sepedaku. “hey kamu, turun” kataku. “ada apa ju ?” tanya dera kebingungan. “ban sepedaku bocor. Kamu jalan sendiri saja ke sekolah aku mau pulang, sudah tidak jauh lagi kok dari sini” aku sebisa mungkin menyembunyikan diriku agar sesil tidak melihat ku berdua dengan wanita lain. “eh ? siapa wanita itu ?” tanya dera yang akhirnya tau masalah sebenarnya. “hmn.. dia.. dia teman ku dari SMP dan dia juga sekelas dengan kita” kata ku sambil melihat ke arah sesil. “wah.. aku akan menghampirinya” katanya sambil berlari menghampiri sesil. “heyy jangannn ! “ ah sudah terlambat, dera sudah menghampiri sesil, dengan malu aku pun mengampiri sesi”
“hay aku dera” kata dera dengan bodohnya dan dengan lagak yang sok kenal. Aku segera menghampirinya. “ eh ? aku sesil” sesil menjawab setelah ia melihat ku di belakang dera. “aduh maaf kan dia, dia anak dari teman ayahku, dan akan bersekolah di sekolah kita” kataku gugup sekali, jujur aku sudah 4 tahun satu kelas dengan sesil tapi ini pertama kalinya aku berbicara dengan nya. “oh begitu, salam kenal dera” katanya tersenyum. “hmm maaf aku pulang duluan ya” katany sambil melambaikan tangannya dan segera berlalu.
“hey dera, kamu bisa jaga kelakuanmu ga sih ?” aku sudah tak sabar dengan dera, “maaf. Kamu suka dengannya ya” katanya bersemangat. “hmm. Itu..ah..bukan urusanmu” aku berjalan mengambil sepeda ku. “ah ju, kenapa wajahmu memerah begitu ? tuh kan kamu suka sesil ya ? wajar sih. Dia memang manis ya” tiba-tiba saja dera sudah duduk di sepeda. “hmm iya” kata ku tanpa sadar. “eh ga, ah apa sih tak usah mencampuri urusan orang lain” bentakku. Kami pun melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit kemudian kami sampailah di sekolah kami, sekolah kami cukup besar dan megah. “wahh besar sekali, aku sudah tak sabar untuk belajar di sekolah ini besok” katany memandang sekolah penuh semangat. setelah puas melihat-lihat kami pun kembali ke rumah takut ketinggalan makan malam. setibanya di rumah hari sudah mulai sore.
********
“hey julio,ju, ini rino. aku mau meminjam PR mu… lho kok cuman ada kucing nya saja”
“ada perlu apa dengan julio” dera menghampiri rino. “eh ?” rino tampak terkejut. “tunggu sebentar ya, sebentar lagi dia datang kok” dera pergi ke pinggir kolam ikan yang ada di halaman rumah, dia memasukkan kakinya ke dalam air. “ka..kamu siapa ?” tanya rino bingung. ” mulai saat ini aku akan tinggal di rumah julio, namaku dera” dera dan rino saling berjabat tangan.  ”ha ? tinggal disini ?” rino masih sangat kebingungan. “hey ngapain kesini rino ?” aku keluar dari rumah ketika mendengar perbincangan di halaman rumah. “eh anu,aku mau pinjam PR mu boleh ?” kata rino ke persolan.. “eh ju, gadis itu benar-benar akan tinggal di rumah mu ?” tanya rino. ” ya begitulah, ada sesuatu hal” kata ku asal. “hey ju. dia benar temanmu ?” triak dera dari pinggir kolam. jarak antara kami memang lumayan jauh. “iya, dia teman ku dari kecil, dan dia akan satu kelas juga dengan mu nanti” kataku setengah berteriak. “wah senangnya, belum masuk sekolah tetapi sudah banyak mengenal teman baru yang akan satu kelas dengan ku.” katanya tampak senang sambil menyiprat-nyipratkan air kolam.
“hei sini” rino menarik tangan ku. “ada apa ?” tanya ku bingung. “jelaskan padaku kenapa wanita secantik itu bisa tinggal di rumahmu ?” tanya nya setengah berbisik. “apa kamu punya hubungan yang khusus ?” tanya nya lagi. “enggak, aku ga punya hubungan apa-apa dengannya.” kataku jujur. “dia anak dari teman ayahku, dan dia ingin bersekolah disini, ga tau kenapa. jadi ya dia tinggal di sini deh” kata ku menjelaskan agar rino tak salah paham. “hmm cerita yang sangat membuat iri. kau sangat beruntung sekali”kata rino tampak berfikir keras. “tidak. aku sama sekali tak menginginkan ini semua terjadi. dan aku berharap ini berlangsung sangat cepat !” kata ku nyaris berteriak. dera langsung melihat ke arah kami, aku hanya menggelengkan kepalaku mengisyaratkan kami tidak apa-apa.
“nah bagus kalau kau tidak tertarik dengannya.”rino berbalik badan membelakangi ku. “memang dia seperti apa sih ?” tanya rino. “lihat sendiri tuh” kataku. dera sedang berendam di kolam bersama ikan-ikan yang ada di sana.
“hahaha aku kepleset” dera tertawa girang. “eh kamu ga papa” rino berlari menghampiri dera. “tuhkan kamu bisa lihat sendiri aneh nya dia” kata ku. aku berjalan ke arah kamar ku yang langsung di ikuti oleh rino.
“apakah kau sudah mengerti maksudku ?” tanya ku sambil melemparkan buku PR ku ke rino. “belum, tapi tampaknya dia memang tampak aneh” kata rino sambil meminum teh yang sudah di hidangkan ibu ku. “tapi.. tapi itu sebanding sekali dengan wajahnya yang imut ! ah aku sangat iri dengan mu. kenapa bukan ayahku saja yang berteman dengan ayah nya !!”
“apa kamu yakin ?”
“ah susah memang ya orang sepertimu”
“ah, hanya saja dia memang bukan kriteria ku” yah dia memang bukan kriteria ku, kriteria ku adalah sesil. sangat berbeda 360 derajat dari dera.”aku sudah memutuskan,aku akan mendapatkan dera. dan kamu harus membantu ku ju” rino benar-benar tampak bersemangat sekali.
-TO BE CONTINUED-
(review please)

0 komentar

Post a Comment